Jakarta () – 24 Agustus nanti Paralimpiade Tokyo 2020 dibuka, dan segera setelah itu 4.521 atlet akan bertanding dalam 520 nomor dari 22 cabang olahraga sampai ditutup pada 5 September.

"Olimpiade sudah selesai, tingkat kegembiraan saya kepada Paralimpiade bertambah besar dari waktu ke waktu, saya tak sabar menyaksikan 4.400 atlet Paralimpiade terbesar di dunia menjadi pusat perhatian," kata Presiden Komite Paralimpiade Internasional (IPC) Andrew Parsons dalam laman Paralimpiade Tokyo 2020.

Bukan hanya Parsons yang tak sabar. Pun demikian dengan miliaran manusia di planet ini. Bakal ada nuansa lebih, ketika atlet-atlet difabel berkompetisi di segala arena.

Ekspektasi itu bahkan membuat Parsons memperkirakan, "Paralimpiade Tokyo 2020 berpotensi menjadi game-changer (pengubah keadaan menjadi lebih baik) tak hanya untuk Jepang tapi juga dunia secara lebih luas, khususnya 1,2 miliar penyandang disabilitas yang merupakan 15 persen dari penduduk dunia."

Paralimpiade memang bukan sekadar kompetisi. Ini jauh lebih tinggi dari sekadar berlomba menunjukkan siapa yang lebih cepat (citius), lebih tinggi (altius), dan lebih kuat (fortius).

Kalau profesionalisme dan nasionalisme menguji kesetiaan manusia kepada tiga nilai Olimpiade yang meliputi keunggulan, persahabatan dan rasa hormat, maka para paralimpian bisa disebut menjunjung ketiga nilai itu sampai selaras dengan hakikat kalimat inspiratif dari pendiri Olimpiade modern, Baron Pierre de Coubertin.

"Yang penting adalah bukan soal menang, melainkan berperan serta," kata de Coubertin. "Yang penting dalam hidup bukan soal menang, melainkan perjuangan; yang penting dalam hidup bukan tentang menaklukkan tapi berjuang keras."

Oleh karena itu, lebih dari sekadar medali, Paralimpiade adalah pengingat tentang apa yang mampu disumbangkan kaum penyandang disabilitas kepada masyarakat sehingga menghadirkan kesetaraan dan rasa hormat.

Olahraga untuk atlet difabel ini sendiri sudah ada lebih dari 100 tahun silam, tepatnya di Berlin pada 1888 ketika di sana sudah ada klub-klub olahraga khusus kalangan tuna rungu.

Namun kompetisi besar olahraga untuk kaum difabel seperti Paralimpiade baru ada setelah Perang Dunia Kedua berakhir. Ini diawali dari gagasan Dr. Ludwig Guttmann yang membuka pusat perawatan cedera akibat perang di Rumah Sakit Stoke Mandeville di Inggris.

Di rumah sakit itu pemulihan pasien tak cuma dengan cara-cara medis, melainkan dengan olahraga rekreatif yang lama kelamaan menjadi olahraga kompetitif.

Pada 29 Juli 1948, tepat ketika Olimpiade London 1948 dibuka, Dr. Guttmann menggelar kompetisi pertama khusus atlet-atlet berkursi roda yang dia namai Stoke Mandeville Games yang diikuti 16 prajurit yang cacat karena perang. Dan inilah momen awal yang mendorong hadirnya Paralimpiade.

Baca juga: Kaisar Jepang akan hadiri upacara pembukaan Paralimpiade Tokyo
Baca juga: Atlet Afghanistan minta pertolongan agar bisa ke Paralimpiade Tokyo

Selanjutnya teladan dan inspirasi

  • 1
  • 2
  • 3
  • Tampilkan Semua

Oleh Jafar M Sidik
Editor: Junaydi Suswanto
COPYRIGHT © 2021