Putu Mayang, Jajanan Tradisional Primadona untuk Buka Puasa

Putu Mayang, Jajanan Tradisional Primadona untuk Buka Puasa


Siapa tak kenal putu mayang, jajanan tradisional berbentuk keriting yang nikmat disantap dengan kuah santan gula Jawa. Ditambah lagi warna-warni jajanan legendaris ini yang memikat mata, membuat putu mayang semakin jadi primadona.

Nah, tahukah Anda, ternyata di Banyuwangi putu mayang jadi primadona menu takjil jalanan. Untuk mendapatkan jajanan ini pun sangatlah mudah, karena hampir seluruh penjual takjil di Kabupaten berjuluk Kota Gandrung ini menjualnya.

Harganya pun sangat murah, hingga rasanya hampir tak sebanding dengan rasanya yang nikmat. Untuk satu porsi, Anda hanya perlu merogoh kocek Rp 5.000 saja. Di setiap porsinya, penjual membalut kue dengan daun pisang dan dibungkus dalam kotak mika. Berisi 4 kue putu mayang berikut kuah santan pandan gula Jawa.

Putu mayang sendiri terbuat dari tepung beras. Cara membuatnya, dengan mencampur tepung dengan air secukupnya. Untuk rasa yang lebih gurih, air bisa diganti dengan santan kelapa. Kemudian diaduk pelan-pelan diatas bara api sedang hingga menggumpal dan kenyal.

Perlu diingat, untuk mencapai level kenyal yang diinginkan, diperlukan keahlian khusus. Sebab, bila asal mengukus dan mengaduk, maka dapat dipastikan adonan akan rusak dan tekstur lembut tidak akan diperoleh.

Setelah itu, angkat adonan yang sudah kenyal dan letakkan di sebuah wadah. Taburkan tepung tapioka secukupnya, lalu uleni menggunakan tangan. Agar lebih menarik dan mengundang selera, bisa diberikan pewarna makanan. Setelah selesai, adonan bisa dicetak.

Proses pencetakan sendiri bisa dilakukan dengan dua cara. Pertama dengan menggunakan cetakan pabrikan. Cetakan ini bisa terbuat dari besi, stainles, ataupun plastik. Berbentuk cekung dengan lubang-lubang, mirip parutan buah. Atau bisa dengan memasukan adonan ke dalam plastik bungkus.

Kemudian bentuk plastik seperti piramid dengan lubang di ujungnya. Pencet adonan dan bentuklah seperti membentuk kerupuk. Selesai mencetak, adonan kemudian dikukus hingga matang secara sempurna.

Untuk kuahnya sendiri, terbuat dari rebusan santan dan daun pandan yang sudah dicampur dengan gula merah. Agar lebih nikmat, kuah ini bisa dipadu dengan buah-buahan. Misalnya saja durian atau nangka.

Dikutip dari Times Indonesia, salah satu penjual takjil di Banyuwangi mengatakan selama Ramadan tahun 2020 ini dirinya mendapati omzet yang luar biasa dari penjualan kue ini. Usaha yang dimilikinya ini merupakan warisan turun temurun. Sejak berusia 10 tahun, penjual ini sudah bergelut dengan bisnis tersebut.

“Pertama mulai berjualan sejak tahun 2000 sampai sekarang. Alhamdulilah selalu banyak pembelinya,” kata Istifalah (52), Selasa (12/5/2020).

Istifalah mengaku bisa menghabiskan 40 – 50 kg tepung beras setiap harinya. Saking banyaknya peminat kue putu mayang atau Petulo di Banyuwangi, Ramadan kali ini dirinya tidak lagi berjualan dalam bentuk siap saji. Dirinya hanya menjual kue keriting ini dalam bentuk grosir, untuk dijual kembali oleh para konsumen.

Hmm, jadi kebayang nikmatnya putu mayang buat buka puasa nanti, nggak, sih?

Dari Redaksi:
Artikel ini tersaji di microsite khusus Ramadan Suara.com, yang selain memuat beragam konten menarik terkait Ramadhan 1441 H, kali ini juga menghadirkan beberapa fitur spesial. Ada fitur Kalkulator Zakat bagi yang butuh menghitung zakatnya, menu Tadarus lengkap dengan tulisan dan suara untuk yang ingin mengaji atau baca Al Quran online, dan tentu ada Jadwal Imsakiyah untuk yang ingin mengetahui waktu Imsak, berbuka, maupun waktu salat.