Jakarta () – Bukan hanya ribuan atlet yang terbang ke Tokyo untuk Olimpiade, tetapi juga ratusan kuda juga berpartisipasi pada kejuaraan empat tahunan itu.

Ratusan kuda tersebut akan bersaing bersama para pebalapnya dalam tiga nomor berkuda, yaitu tunggang serasi, lompat rintangan dan trilomba — satu-satunya olahraga Olimpiade di mana laki-laki dan perempuan bersaing secara individu dengan syarat yang sama.

Ratusan kuda, yang masing-masing memiliki bobot 510-630kg, itu berada dikandang khusus — masing-masing kandang berisi dua kuda — bersuhu 16 derajat celcius dan ditemani oleh pengawas kuda dan dokter hewan dalam perjalanan di penerbangan.

Membutuhkan keahlian khusus, penerbangan seperti itu dilakukan oleh agen transportasi yang memiliki spesialisasi transportasi kuda, Peden Bloodstock, yang telah mengorganisir transportasi kuda Olimpiade dan Paralimpiade sejak 1960.

Namun, ini adalah pertama kalinya bandara Haneda Tokyo menangani pengiriman bermuatan kuda, yang masing-masingnya bernilai tinggi.

"Ini bukan sekadar kuda, mereka adalah kuda Olimpiade", kata administrator Bandara Internasional Tokyo, Takahashi Koji, dikutip dari Reuters, Jumat.

"Ini adalah malam yang sangat besar bagi bandara, dan khususnya untuk tim kargo, dan kami melihatnya sebagai salah satu tonggak utama penghitungan mundur terakhir Olimpiade Tokyo 2020."

Penerbangan Olimpiade pertama tahun ini dari Eropa membawa 36 kuda dari Belgia melalui Dubai ke Tokyo dalam perjalanan 18 jam, juga mengangkut 12.000 kg pakan dan 13.500 kg perlengkapan kuda.

Penerbangan itu mencakup kuda milik sejumlah atlet, di nya kuda betina Bella Rose milik Isabell Werth dari Jerman, atlet berkuda yang beberapa kali menjadi juara Olimpiade.

Semua kuda menjalani periode pengawasan kesehatan 60 hari dan karantina tujuh hari sebelum penerbangan.

Hal itu sangat penting tahun ini setelah dunia olahraga berkuda harus berjuang melawan dua penyakit dalam beberapa bulan terakhir, yaitu virus corona yang menyerang penunggang dan virus herpes yang menyerang kuda.

Baca juga: Ini perbedaan Olimpiade Tokyo 1964 dan 2020 dari segi infrastruktur
Baca juga: Atlet aktivis bersiap jajal aturan anti-protes dalam Olimpiade
Baca juga: Kisah dramatis Masomah Ali Zada, dari Afghanistan sampai Olimpiade

Pewarta: Arindra Meodia
Editor: Bayu Kuncahyo
COPYRIGHT © 2021