Kebetulan Dimas kemarin sempat down juga. Ya, tugas saya sebagai runner guide untuk membangkitkan semangat dia

Jayapura () – Penutup mata terpasang rapat di wajah Muhammad Dimas Ubaidillah, atlet tunanetra yang turun nomor lari kelas T11 Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua.

Dimas memegang seutas tali kecil yang ujungnya dipegang oleh seorang laki-laki yang berdiri di sampingnya kala berjalan menuju lintasan.

Di lintasan, mereka berdua mengambil start dan berlari secara beriringan. Langkah kaki mereka kompak menghajar lawan tanpa keraguan.

T11 adalah klasifikasi untuk pelari disabilitas netra yang membutuhkan runner guide atau pendamping untuk mengarahkan irama dan arah kaki sang atlet.

Jangan salah. Meski tak bisa melihat, Dimas mampu berlari dengan sangat kencang. Beruntung, sang runner guide sigap mengimbangi deru langkah si atlet.

Sika Uddin, adalah laki-laki yang menjadi runner guide atlet asal Jawa Tengah itu. Mulai menuju lintasan, bertanding, hingga menaiki podium, mereka berdua selalu berjalan berdampingan.

Kebetulan, Dimas meraih medali emas di nomor 400 meter putra T11 pada debutnya di Peparnas. Bahkan, catatan waktunya memecahkan rekor nasional.

Atlet kelahiran Kendal, Jawa Tengah, 19 April 2003 itu mencatatkan waktu tercepat, yakni 55,55 detik, dan memecahkan rekor yang dicetak Rully Alkahfi Mubarok pada Peparnas 2016 di Jawa Barat dengan catatan waktu 56,53 detik.

Tentu, peran Sika sebagai pendamping sangat menentukan dalam kemenangan itu. Padahal, mereka baru tiga bulan "dijodohkan" menjelang Peparnas Papua.

Sebenarnya, Sika sudah setahun ini menjadi runner guide, tapi berpasangan dengan Dimas memang baru tiga bulan ini dilakoninya.

"Dulu, saya guide-nya Rully (Rully Alkahfi Mubarok) untuk pelatnas (pelatihan nasional) persiapan ke Filipina, ASEAN Para Games 2020," ujar pria kelahiran Surakarta, 31 Desember 1996.

Berhubung ASEAN Para Games 2020 urung digelar, Sika ditarik untuk membela kontingen Jawa Tengah sebagai persiapan menghadapi Peparnas Papua.

Baca juga: 96 rekornas para-atletik pecah di Peparnas Papua

Basis atlet

Dimas yang mempunyai postur jangkung, dengan tinggi 180 sentimeter membutuhkan pendamping lari yang juga bertubuh tinggi agar bisa mengimbangi.

Dari postur dan kemampuan, Sika dianggap sosok yang layak sehingga diminta membantu pelatnas para-atletik

Apalagi, tak sembarang orang bisa menjadi runner guide. Paling tidak, harus berbasis atlet agar tidak kedodoran dengan kemampuan sang atlet yang didampingi.

"Awal mulanya runner guide memang harus basic atlet dulu," kata putra pasangan Misto dan (almarhumah) Sari itu.

Ternyata, Sika dulunya adalah seorang atlet kala berkuliah di Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta.

Namun, Sika mengalami kecelakaan saat perkuliahan, yakni praktik senam alat atau senam artistik (artistic gymnastic) membuatnya mengalami cedera.

Kejadian yang dialaminya pada 2017 itu sempat membuat mentalnya down, tetapi Sika perlahan bangkit dengan memasuki dunia olahraga difabel.

Namun, bukan menjadi atlet. Sika bergabung dengan National Paralympic Committee Indonesia (NPCI) yang kebetulan bermarkas di Solo untuk menjadi guide runner.

Baca juga: Jateng belum terkejar di para-atletik Peparnas Papua
 

Atlet lari tunanetra ketika mengambil posisi start berdampingan dengan "runner guide". (/Zuhdiar Laeis)

Pengembangan prestasi atlet difabel juga menjadi alasan tersendiri bagi Sika menekuni runner guide.

"Terdorong hati saya untuk membanggakan olahraga difabel atletik agar lebih maju di Indonesia dan mancanegara," ujar pemuda ramah itu.

Di sela kesibukannya menjadi runner guide, Sika ternyata masih sempat menjajal kemampuannya sebagai atlet dengan turun di nomor estafet Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Tengah 2018.

Bahkan, Sika juga menyiapkan diri untuk tampil di Porprov Jateng 2022 pada tiga nomor pertandingan, yakni 100 meter, 200 meter, dan estafet.

Baca juga: Slamet Wahyu kembali pecahkan rekornas di Peparnas Papua

Temukan chemistry

Melihat saja sudah terbayang sulitnya menjadi guide runner. Bagaimana cara mengarahkan, menyelaraskan, dan mengimbangi lari sang atlet yang tidak bisa melihat.

Sika pun mengakui rumitnya olahraga yang digelutinya. Itulah pentingnya pendekatan dengan sang atlet yang didampingi agar saling menemukan chemistry.

"Sebenarnya triknya simpel. Waktu jalan harus bergandengan, jogging bergandengan, sambil lirik (mata) untuk menyamakan langkah," Sika membocorkan.

Bahkan, berlatih bersama dengan bergandengan dilakukannya setiap latihan, pagi maupun sore sehingga 2-3 minggu sudah bisa klop.

Para peraih medali emas, perak, dan perunggu nomor lari kelas T11 bersama "runner guide"-nya di podium para-atletik Pekan Paralimpik Nasional (Peparnas) XVI Papua. (/Zuhdiar Laeis)

Kunci lainnya, kata pemuda berusia 25 tahun itu, runner guide harus memiliki kecepatan lari lebih dibandingkan sang atlet.

Ternyata, tugas runner guide ternyata tak melulu sebatas di lintasan. Sika pun harus mendampingi Dimas di luar latihan sampai menjadi tempat curhat.

Apalagi, penampilan atlet sangat dipengaruhi oleh banyak faktor, terutama suasana hati. Jika mental atlet sedang down maka bisa dipastikan penampilannya jadi kurang maksimal.

"Kebetulan Dimas kemarin sempat down juga. Ya, tugas saya sebagai runner guide untuk membangkitkan semangat dia," ungkap Sika.

Bahkan, Sika menyebut peran runner guide bukan hanya sebagai pendamping lari. Tetapi, sekaligus menjadi sahabat, saudara, bahkan seringkali berperan sebagai orang tuanya yang harus bisa "ngemong".

Sika adalah satu dari sekian banyak runner guide yang turun di Peparnas Papua. Mereka semua memiliki kepedulian tinggi dengan pengembangan prestasi olahraga paralimpik, khususnya para-atletik.

Mereka pun tak kalah bangga kala atlet yang didampingi meraih juara. Apalagi, sampai bisa memecahkan rekor nasional, sebagaimana yang dicapai Dimas di Peparnas Papua.

"Dim, pecah rekor ternyata. Rekor Rully di (Peparnas) Jabar," seru Sika girang, disambut Dimas tak kalah gembira, dengan setengah tidak percaya.

Baca juga: Debut di Peparnas, Rifki Ahmad Sholeh sabet dua emas

Oleh Zuhdiar Laeis
Editor: Fitri Supratiwi
COPYRIGHT © 2021