Studi Italia: 16 Persen Pasien Sembuh Covid-19 Masih Memiliki Virus

Studi Italia: 16 Persen Pasien Sembuh Covid-19 Masih Memiliki Virus

Sebuah studi dari Fondazione Policlinico Universitario “Agostino Gemelli” IRCCS, Roma, Italia menyebutkan bahwa hampir 17 pasien sembuh Covid-19 masih membawa virus. Studi ini telah diterbitkan pada American Journal of Preventive Medicine.

Melansir dari Medicalxpress, para peneliti melaporkan bahwa hampir 17 persen pasien yang dianggap pulih sepenuhnya dari Covid-19 masih dinyatakan positif virus dalam pemeriksaan lanjutan.

Pasien yang terus mengalami gejala pernapasan, terutama sakit tenggorokan dan rinitis masih memiliki virus meski telah dinyatakan sembuh. Hal ini menunjukkan bahwa kedua gejala ini tidak boleh diremehkan dan harus dinilai serius pada pasien yang telah dinyatakan sembuah sekalipun.

“Dokter dan peneliti berfokus pada fase akut Covid-19, tetapi pemantauan lanjutan setelah keluar dari rumah sakit untuk efek jangka panjang masih diperlukan,” jelas ketua peneliti Francesco Landi, MD, Ph.D., Fondazione Policlinico Universitario “Agostino Gemelli” IRCCS, Roma, Italia.

Baca Juga:
Seminggu Terakhir, Hampir 500.000 Orang Tertular COVID-19 di AS

Studi ini melibatkan 131 pasien yang telah dinyatakan sembuh sesuai standar Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Namun saat melakukan tes PCR kembali, 22 pasien atau 16,7 persen kembali dinyatakan positif. Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pasien dengan hasil tes positif dan negatif dalam penelitian ini.

Ilustrasi penularan virus corona. [Shutterstock]
Ilustrasi penularan virus corona. [Shutterstock]

“Temuan kami menunjukkan bahwa pasien yang pulih dari Covid-19 masih bisa menjadi pembawa virus tanpa gejala,” kata Dr. Landi.

“Pertanyaan utama untuk penanggulangan infeksi pandemi SARS-CoV-2 yang masih perlu dijawab adalah apakah keberadaan fragmen virus yang terus-menerus masih membuat pasien tetap menularkan virus,” imbuhnya. 

Para peneliti merekomendasikan bahwa bagi pasien yang masih menunjukkan gejala jangka panjang harus berhati-hati dan menghindari kontak dekat dengan orang lain, memakai masker, dan lakukan pengujian. 

Baca Juga:
Penelitian Awal Vaksin Sinovac Dilakukan di Luar Negeri, Ini Kata BPOM