10 Saham Non-Bank Ini Bikin Asing Ngiler, Cekidot Gaes!

Kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). kompetisi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta,  Indonesia – Aksi beli bersih kembali terjadi di pasar modal Indonesia setelah pekan lalu juga terjadi beli bersih. Selasa kemarin (17/11), asing kembali mencatatkan beli bersih dalam sehari yakni mencapai Rp 680,76 miliar.

Jika ditambah dengan pasar negosiasi dan tunai, investor asing yang masuk total mencapai Rp 739,55 miliar dalam sehari.

Sebagai perbandingan, data BEI mencatat, dalam sepekan lalu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menguat 2,35% dengan investor asing mengakumulasi pembelian bersih (net buy) Rp 4,47 triliun di pasar saham Indonesia.

Adapun Selasa kemarin, ditutup di zona hijau seiring dengan kabar kandidat vaksin Covid-19 Moderna yang diklaim ampuh direspons positif oleh pasar dan membuat mayoritas bursa saham Asia berada di zona apresiasi, termasuk IHSG.

Pada penutupan, IHSG naik 0,64% dan ditutup di 5.529,194. Data perdagangan mencatat 252 saham mengalami apresiasi, 187 saham terkoreksi dan 178 saham stagnan.

Baca:

Saat MNC Kurangi Porsi, Lo Kheng Hong Malah Anteng di BMTR

Nilai transaksi yang tercatat hingga berakhirnya perdagangan mencapai Rp 14,38 triliun.

Dalam 5 hari perdagangan secara akumulatif, asing masuk Rp 2,24 triliun di pasar reguler.

Nah, pada periode ini, sejumlah saham non-bank mencatatkan net buy cukup besar. Kenapa diambil saham non-bank, lantaran dua bank besar yakni PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) masih dominan.

Dalam 5 hari perdagangan terakhir, saham BBCA diborong asing Rp 1,2 triliun, sementara BBRI Rp 879 miliar. 

Top Foreign Buy Non-Bank 17 November 2020

1. Telkom (TLKM), net buy Rp 548,3 miliar, saham +4,89% Rp 3.220

2. Indofood CBP (ICBP), net buy Rp 73 miliar, saham +5,13% Rp 10.250

3. Merdeka Copper (MDKA), net buy Rp 67,9 miliar, saham +1,34% Rp 1.885

4. Vale Indonesia (INCO), net buy Rp 48,8 miliar, saham +1,78% Rp 4.580

5. Sarana Menara (TOWR), net buy Rp 20,1 miliar, saham +0,50% Rp 1.010

6. Japfa (JPFA), net buy Rp 8,5 miliar, saham -0,78% Rp 1.265

7. Ciputra (CTRA), net buy Rp 6,2 miliar, saham +4,44% Rp 940

8. Link Net (LINK), net buy Ro 5,1 miliar, saham +2,68% 2.300

9. Bumi Resources Minerals (BRMS), net buy Rp 4,8 miliar, saham Rp 64

10.Erajaya (ERAA), net buy Rp 2,6 miliar, saham _0,54% Rp 1.835

Top Foreign Buy Non-Bank 11-17 November 2020

1. Telkom (TLKM), net buy Rp 792,4 miliar, saham +12,59% Rp 3.220

2. Astra International (ASII), net buy Rp 323,3 miliar, saham +0,87% Rp 5.800

3. Merdeka Copper (MDKA), net buy Rp 181,4 miliar, saham +1,89% Rp 1.885

4. Charoen Pokphand (CPIN), net buy Rp 89,9 miliar, saham +0,37% Rp 6.700

5. Semen Indonesia (SMGR), net buy Rp 59,2 miliar, saham +3,54% Rp 10.975

6. Indocement (INTP), net buy Rp 45,9 miliar, saham +0,35% Rp 14.150

7. Ace Hardware (ACES), net buy Rp 34,7 miliar, saham -0,59% Rp 1.690

8. Kalbe Farma (KLBF), net buy Rp 34 miliar, saham +0,33% Rp 1.500

9. Medikaloka Hermina (HEAL), net buy Rp 7,4 miliar, saham +6,69% Rp 3.510

10. Mitra Adiperkasa (MAPI), net buy Rp 6,7 miliar, saham +4,08% Rp 765

Tim Riset  Indonesia menilai, investor saat ini memang on fire. Risk appetite para pelaku pasar bangkit dengan kabar gembira yang bertubi-tubi terkait perkembangan vaksin Covid-19.

Setelah minggu lalu Pfizer, BioNTech dan Gamaleya Research Institute mengklaim bahwa kandidat vaksin mereka memiliki tingkat keampuhan lebih dari 90%, kini giliran Moderna.

Perusahaan bioteknologi asal AS itu mengembangkan vaksin untuk Covid-19 dengan platform yang sama dengan Pfizer dan BioNTech yang menggunakan molekul RNA. Kandidat vaksin Covid-19 Moderna disebut punya tingkat keampuhan 94,5%.

Baca:

Rupiah Juara Asia, tapi Belum Sanggup ke Bawah Rp 14.000/US$

“Kami akan memiliki vaksin yang dapat menghentikan Covid-19,” kata Presiden Moderna Stephen Hoge dalam wawancara telepon dengan Reuters.

Di sisi lain, terkait dengan Telkom yang merajai top foreign buy di luar saham perbankan (BBRI dan BBCA), ialah prospek bisnis setelah Telkomsel, anak usahanya, baru mendapatkan dana segar Rp 10,3 triliun hasil penjualan 6.050 menara telekomunikasi (Base Transceiver Station/BTS) ke sister company-nya PT Dayamitra Telekomunikasi (Mitratel).

Selain itu, sentimen positif datang lagi ketika Selasa kemarin manajemen Telkom mengumumkan suntikan dana hingga US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun (kurs Rp 14.000/US$) kepada PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) atau Gojek.

“Pada tanggal 16 November 2020 di Jakarta PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel) anak perusahaan dari Telkom dan PT Aplikasi Karya Anak Bangsa (AKAB) telah menandatangani perjanjian atas investasi senilai US$ 150 Juta,” kata Andi Setiawan, VP Investor Relations Telkom, di keterbukaan BEI.

“Investasi di Gojek dilakukan sebagai bentuk komitmen Telkomsel sebagai perusahaan telekomunikasi digital untuk memberikan layanan beyond connectivity. Telkom percaya kolaborasi ini dapat memberikan layanan dan solusi yang lebih baik kepada masyarakat dalam membangun ekosistem digital yang inklusif dan berkesinambungan.”

Baca:

Bos Telkom: Telkomsel-Gojek Akselerasi Bisnis Digital RI

[Gambas:Video ]

(tas/tas)