11 Saham IPO ‘Crispy’ Banget Gaes, Cek Faktanya!

Diskusi jual beli saham Oppo Stocks in Your Hand di Bursa Efek Indonesia, Senin (18/2/2019). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, – Sepanjang kuartal I tahun ini, tercatat ada 11 emiten yang resmi melantai atau melakukan penawaran umum saham perdana (initial public offering/IPO) di Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten-emiten tersebut memiliki fokus bisnis yang beragam, mulai dari perkebunan, laboratorium, sampai produsen laptop asli Indonesia.

Lantas, bagaimana kinerja saham-saham IPO tersebut sejak awal listing?

Benarkah pernyataan segelintir pelaku pasar modal yang bilang, “oh saham IPO paling 3 hari ambruk lagi,” begitu biasanya terlontar di grup-grup WhatsApp pelaku pasar.

Mari kita buktikan dengan data dari Bursa Efek Indonesia (BEI) ini.

Berikut gerak 11 saham ‘pendatang baru’ sejak awal IPO hingga 1 April 2021.

Bila menilik daftar di atas, mayoritas saham-saham IPO mencatatkan kinerja yang luar biasa sejak pertama kali melantai.

Tercatat hanya saham Ulima Nitra (UNIQ) yang membukukan rapor merah di antara yang lainnya.

Bahkan, ada dua saham yang sudah meroket mencapai 2.500%, yakni saham emiten bisnis data center DCI Indonesia (DCII) dan saham Bank Net Syariah (BANK).

DCII mencatatkan lonjakan harga tertinggi di antara saham IPO lainnya.

Barangkali, ada beberapa faktor yang melatarbelakangi kenaikan fantastis ini, misalnya, banyak investor kakap dan ritel yang tertarik dengan prospek emiten ini ke depannya.

Selain itu, faktor lainnya bisa berkaitan dengan DCII yang lebih dahulu melantai dibandingkan emiten lainnya, yakni pada 6 Januari 2021.

Mengenai hal ini, bisa saja saham emiten yang baru melantai akhir bulan lalu seperti emiten produsen laptop Zyrex (ZYRX) dan emiten perhotelan Sunlake Hotel (SNLK) melampaui kinerja saham DCII.

Meskipun, hal tersebut bukanlah keniscayaan atau satu-satunya jaminan. Ambil contoh, emiten perkebunan FAP Agri (FAPA) tercatat 2 hari lebih cepat dibandingkan DCII, tetapi mencatatkan kenaikan yang lebih rendah, 40,22%.

Baca:

22 Perusahaan Antre IPO, tapi BUMN Belum Masuk Daftar

Akibat kenaikan harga saham DCII yang luar biasa ini membuat BEI mensuspensi atau menghentikan perdagangan saham tersebut sementara sebanyak tiga kali. Terakhir, otoritas bursa ‘menggembok’ DCII sekitar sebulan lebih, yakni sejak 11 Februari sampai 18 Maret 2021.

Setelah kembali beraktivitas di bursa, saham DCII lebih banyak memerah ketimbang menghijau. Tercatat, sejak 18 Maret lalu, saham perusahaan yang berdiri sejak 2011 silam ini ambles tujuh kali, dan hanya menghijau tiga kali, sisanya stagnan satu kali.

Jika menilik fundamental emiten milik pengusaha Toto Sugiri ini, sepanjang tahun lalu DCII membukukan kinerja yang positif. Perusahaan mencetak laba bersih senilai Rp 183,14 miliar, melesat 71,74% dari laba bersih tahun sebelumnya.

Kenaikan laba bersih tersebut seiring kenaikan pendapatan usaha, dari Rp 489,86 miliar pada 2019, melonjak 55,02% menjadi Rp 759,37 miliar.

Sebagai informasi, DCII melepas sebanyak 357,56 juta saham baru yang setara dengan 15% dari modal disetor dan ditempatkan perseroan, dengan harga penawaran sebesar Rp 420 per saham. Dengan IPO tersebut, perseroan meraih dana sebesar Rp 150,17 miliar. Adapun saham DCII dicatatkan di papan pengembangan.

Seiring dengan kebutuhan pasar data center di Indonesia terus berkembang, perusahaan berencana akan membangun gedung data center baru di dalam area data center seluas 8,5 hektar dengan total kapasitas listrik sebesar 200 MW.

NEXT: Apa Benar Saham IPO Cuma Beberapa Hari Saja Naik?

Baca:

Rilis Lapkeu, Begini Kinerja Keuangan Indika pada 2020