Ajib… Saham BRIS Cuan 545%, Cek Dulu Rencana Bisnisnya!

BRIsyariah Salurkan Dana PEN untuk UMKM (Dok. BRIsyariah)

Jakarta, Indonesia – Harga saham PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS) masih mencatatkan penguatan signifikan pada perdagangan Kamis kemarin (5/11/2020) pada saat perusahaan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) dengan agenda pergantian pengurus.

Data BEI mencatat, saham BRIS melesat 8,12% di posisi Rp 1.265/saham, dengan nilai transaksi Rp 403,85 miliar dan volume perdagangan 324,72 juta saham.

Dengan penguatan ini, dalam sebulan terakhir perdagangan atau 30 hari akumulatif, saham anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ini naik 51%, 3 bulan melesat 114%, dan 6 bulan terakhir meroket 545,41% dengan kapitalisasi pasar Rp 12,35 triliun.

Investor asing bahkan memborong saham BRIS sebesar Rp 4,56 miliar di pasar reguler.

Satu sentimen besar bagi BRIS yakni perusahaan ditunjuk sebagai entitas yang menerima penggabungan (surviving entity) atau bank survivor atas merger tiga bank syariah BUMN.

Sebanyak dua bank lain yang akan dilebur ke BRIS yakni PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS). Target merger akan efektif rampung pada 1 Februari 2021.

Selain soal merger, kinerja BRIS juga impresif di tengah turunnya kinerja perbankan syariah dan konvensional lainnya.

BRIS mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada 9 bulan pertama tahun ini atau periode hingga triwulan III 2020, sebesar 238% menjadi Rp 190,58 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni Rp 56,46 miliar.

Di sisi aset, perseroan mencatatkan aset sebesar Rp 56 triliun pada triwulan III 2020, meningkat 51,40% dibandingkan triwulan III 2019.

Baca:

RI Resmi Resesi, Asosiasi Emiten: Tak Perlu Khawatir!

Rencana bisnis

Dalam RUPSLB yang berlangsung Kamis kemarin, manajemen BRIS mengungkapkan rencana bisnis ke depan, Perseroan menegaskan bank hasil penggabungan yakni untuk sementara memakai BRIS, masih akan tetap mempertahankan bisnis ritel yang saat ini dijalankan perusahaan.

Pasalnya, saat ini bisnis ritel merupakan bisnis utama yang dijalankan oleh perusahaan.

Direktur Utama BRISyariah Ngatari mengatakan setelah BRIS menjadi bank hasil penggabungan nanti, fokus bisnis perusahaan akan berubah ke wholesale banking (kredit korporasi) dengan target bisa menembus pasar global.

Namun, rencananya bank ini tetap akan mempertahankan bisnis yang saat ini dijalankan oleh masing-masing bank.

“Setelah merger, bank hasil merger akan fokus wholesale dan konsumer tidak dari rencana bisnis bank yang telah disampaikan,” kata Ngatari dalam paparan publik secara virtual, Kamis (5/11/2020).

Baca:

IHSG Terbang 3% & Asing Masuk Rp929 M, Ternyata Ini Pemicunya

“Pada intinya yang diharap segmen masing-masing bank akan berlanjut. Wholesale BSM [Bank Syariah Mandiri], konsumer dari ketiga bank akan berlanjut, UMKM lanjut karena BRI Syariah fokus pada UMKM. pada dasarnya bisnis ketiga bank akan dilanjutkan,” .

Ngatari juga menjelaskan, peluang pengembangan pasar keuangan syariah di Indonesia masih memiliki potensi untuk bisa berkembang lebih besar yang saat ini belum tergarap.

Dari segi wholesale, peluang pendanaan dari perusahaan swasta dan BUMN untuk menerbitkan sukuk dan peluang investasi dengan menggaet pengelola aset global.

Di samping itu, saat ini perusahaan tengah aktif dalam pengembangan platform digital untuk terus memperbesar pasar ritel baik dari segi pendanaan hingga pembiayaan.

Direktur Bisnis Ritel BRISyariah Fidri Arnaldy, dalam kesempatan itu, menjelaskan perusahaan saat ini telah berhasil meningkatkan porsi pembiayaan dan dana pihak ketiga (DPK) dari dana murah berkat transformasi digital yang dilakukan perusahaan di kedua bidang ini.

Dalam bahan paparan yang disampaikan, komposisi DPK dari dana murah (tabungan dan giro atau CASA-current account saving account) hingga akhir September lalu mencapai 51,3% jika dibandingkan dengan deposito yang porsinya 48,7%. di mana total DPK hingga akhir kuartal ketiga ini mencapai Rp 48,73 triliun.

Sementara itu, komposisi pembiayaan dari ritel di bank ini telah mencapai 76,6% sampai September 2020 lalu, naik dari posisi di akhir periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 61,7%.

Sisanya berasal dari pembiayaan komersil dengan outstanding pembiayaan di akhir periode tersebut mencapai Rp 40,36 triliun.

“Secara persentase di CASA dan nominal di CASA, peningkatan CASA dan turunkan cost ini jadi pondasi gimana support bisnis lebih bagus termasuk pembiayaan naik salah satunya karena DPK terus naik dan bersumber dari CASA, jadi mampu bersaing,” jelas Kokok Alun Akbar, Direktur Bisnis Komersial BRIS.

Selain itu, dari sisi merger, Ketua Project Management Office Integrasi (PMO) dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN, Hery Gunardi mengatakan total aset bank hasil penggabungan ini nantinya akan mencapai Rp 215,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun.

Tidak hanya memiliki aset jumbo, bank hasil leburan ini juga memiliki total pembiayaan sebesar Rp 165 triliun atau setara dengan 44,99% total pembiayaan seluruh bank syariah dan UUSÂ (unit usaha syariah) di Indonesia yang berada di angka Rp 368 triliun.

Terkait dengan merger ini, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan menjadi pemegang saham mayoritas dari BRIS, dengan kepemilikan sebesar 51,2%.

Berdasarkan keterangan resmi, komposisi pemegang saham pada lainnya selain BMRI yang sebesar 51% di BRIS adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 25,0%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 17,4%, DPLK BRI-Saham Syariah 2% dan investor publik 4,4%.

Baca:

Bakal Menciut, BRIS Bakal Perbesar Saham Publik Pasca Merger

[Gambas:Video ]

(tas/tas)