Ancaman Baru Trump ke Xi Jinping, dari Tarif ke Manufaktur

Jakarta, РKetegangan antara Amerika Serikat dan China dalam beberapa pekan terakhir terus meningkat. Yang paling baru dipicu oleh asal usul virus corona (COVID-19).

Presiden AS Donald Trump menuding virus berasal dari Laboratorium Virologi Wuhan. Wuhan sendiri adalah ibukota Provinsi Hubei, China bagian tengah, di mana virus pertama kali menyebar.

Ia menyebut, pemerintahnya punya bukti. Hal tersebut juga diperkuat oleh komentar Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, yang menyebut ada bukti besar dan signifikan.




Meski China membantah tudingan AS, sejumlah ancaman sudah dilontarkan Trump. Sejumlah kebijakan juga digodok, guna ‘menghukum’ China karena dianggap lalai pada penanganan corona.

Lalu apa saja itu?

Pilihan Redaksi
  • Makin Panas! Ini Ancaman Terbaru Trump soal Tarif ke China
  • Intel Warning Xi Jinping, China-AS Terancam Perang Terbuka
  • AS Vs China Makin Ribut, ‘Perang Terbuka’ di Depan Mata!

Kesepakatan Tarif Perang Dagang

Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengancam akan mengakhiri perjanjian perdagangan fase satu dengan China. Apalagi jika negeri Panda gagal memenuhi janjinya untuk membeli barang dan jasa milik AS senilai US$ 200 miliar.

“Kita harus melihat apa yang terjadi [dengan pembelian] karena apa yang terjadi saat ini,” kata Trump selama balai kota virtual dari Lincoln Memorial di Washington, awal pekan ini.

“Mereka mengambil keuntungan dari negara kita. Sekarang mereka harus membeli dan, jika mereka tidak membeli, kami akan mengakhiri kesepakatan. Sangat sederhana,” lanjutnya, sebagaimana dikutip dari South China Morning Post.

Kesepakatan tarif terkait perang dagang antara kedua negara yang terjadi sejak 2018. Namun Februari, perdamaian parsial dibuat kedua negara, dengan penandatanganan kesepakatan fase satu.

Pada saat itu, AS mengurangi separuh tarif yang berlaku bagi barang China ketika masuk AS. Namun tetap memberlakukan pajak impor 25% untuk produk China senilai US $ 250 miliar.

Sebagai gantinya, pihak China berjanji untuk membeli, setidaknya US$ 200 miliar lebih banyak barang dan jasa AS di tahun 2017. Termasuk US$ 40 miliar barang pertanian.

Banyak yang berspekulasi bahwa kemampuan China untuk melakukan pembelian dirusak oleh pandemi COVID-19. Aturan penguncian (lockdown) berbulan-bulan demi menekan angka penyebaran wabah, menyebabkan kontraksi ekonomi pertama negara itu sejak tahun 1987.

ke Hal 2 >>>