Asing Kabur Rp 19 T dari Bursa RI, Ternyata Ini Pemicunya

Asing Kabur Rp 19 T dari Bursa RI, Ternyata Ini Pemicunya

Jakarta, – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup menguat tipis 0,36% di level 4.529,55 pada perdagangan Selasa kemarin (28.4.2020). Nilai transaksi tercatat sebesar Rp 6,25 triliun dengan catatan aksi jual bersih yang cukup signifikan di semua pasar mencapai Rp 1 triliun.

Mengacu data Bursa Efek Indonesia (BEI),aksi jual bersih (net sell) pada perdagangan kemarin itu terbagi atas Rp 778,78 miliar di pasar reguler, dan Rp 325,10 miliar di pasar negosiasi dan tunai sehingga total net sell menembus Rp 1,10 triliun.

Dengan demikian, total net sell dalam sebulan terakhir mencapai Rp 9,16 triliun dan secara tahun berjalan atau year to date mencapai Rp 19,19 triliun. Tekanan net sell ini membuat IHSG pada periode tahun berjalan ini minus hingga 28,10%.




Kinerja IHSG yang terjun bebas ini pun mengekor kinerja bursa saham utama lain di pasar global. Misalnya saja di Asia Tenggara, di Filipina, bursa saham anjlok 30,26%. Demikian halnya dengan bursa Singapura dan Malaysia dan Thailand, yang ambles masing-masing sebesar 20,67%, 13,39% dan 19,97%.

Baca:

Selain Efek Corona, Saham Tekstil Tak Menarik karena Utang

VP Equity Research PT RHB Sekuritas Indonesia, Christopher Andre Benas menjelaskan, arus modal keluar dari pasar saham cukup deras lantaran pasar saham di negara-negara maju seperti Amerika Serikat (AS) dan Eropa lebih banyak mendapatkan stimulus dari pemerintah.

Di Negeri Abang Sam, pemerintah AS berani membeli obligasi dengan rating sampah alias junk, ini dilakukan untuk mencegah terjadinya krisis kredit.

“Pasar di negara AS, Eropa lebih banyak stimulus dari pemerintah, wajar investor keluar dari emerging [pasar negara berkembang] karena risiko debt lokal lebih berisiko dibanding pasar negara maju,” kata Christopher, dalam wawancara dengan , Selasa (28/4/2020).

Sebelumnya, Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) AS juga sudah meloloskan RUU paket darurat atau dana stimulus untuk menangani pandemi virus corona sebesar US$ 483 miliar atau Rp 7.503 triliun pada Kamis (23/4/2020).

Adapun di dalam negeri, salah satu katalis yang sedang dinantikan pelaku pasar, katanya, saat ini adalah laporan kinerja keuangan emiten pada triwulan pertama 2020.

Baca:

Performa Saham BUMN di LQ45 Saat Corona, Siapa Terbaik?

Christopher mengatakan sentimen yang juga menjadi penyebab larinya modal asing dari bursa RI ialah mulai adanya wacana pembukaan kembali aktivitas ekonomi di sejumlah negara maju. Pasar sedang mendengungkan wacana pembukaan kembali pasar untuk menggerakkan aktivitas perekonomian yang sempat lumpuh karena pembatasan sosial dan karantina wilayah.

Di tempat terpisah, Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Laksono Widodo menambahkan, volatilitas di pasar saham cenderung tinggi ketika terjadi krisis ekonomi.

Investor global cenderung memilih aset safe haven (aset aman untuk lindung nilai) atau memindahkannya ke aset surat utang.

“Kita sudah alami krisis semacam ini berkali-kali. Kita lihat behavior dari investor asing itu memang mereka dalam suatu kondisi yang sifatnya mereka anggap kritis, semua lari ke safe heaven. Makanya kami lihat selalu menimbulkan volatilitas tinggi kalau terjadi krisis,” kata Laksono, pekan lalu.

Laksono menambahkan, jika dibandingkan dengan kondisi penurunan pasar saham pada 2008 yang dipicu oleh subprime mortgage, pasar saham Indonesia jatuh sampai 50%. Namun, di masa pandemi ini, penurunan ini sedikit lebih rendah karena adanya peran investor domestik.

“Mereka berfungsi sebagai shock breaker saat terjadi kejutan negatif di pasar modal. Jadi memang situasinya 2008 dan 2020 ini cukup berbeda karena partisipasi lokal investor,” ujarnya.

[Gambas:Video ]

Baca:

Asing Kabur Lagi Rp 1 T, tapi IHSG Bisa Ditutup Menguat 0,36%

(tas/tas)