Baru Tembus 5.300, Hati-Hati IHSG Kepeleset

Masih Dihantui Virus Corona, IHSG Merah. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta,  Indonesia – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan Selasa (25/8/20) ditutup di zona hijau dengan kenaikan 1,17% di level 5.338,88 berhasil ditutup di atas level psikologisnya di angka 5.300.

Data perdagangan mencatat, investor asing melakukan aksi jual bersih sebanyak Rp 338 miliar di pasar reguler hari ini dengan nilai transaksi hari ini menyentuh Rp 9,3 triliun.

Nilai tukar rupiah menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Selasa (25/8/2020) setelah back-to-back menjadi juara alias mata uang terbaik di Asia. Rupiah mengawali perdagangan dengan impresif, tetapi sayangnya momentum penguatan tersebut gagal dipertahankan.

Baca:

Ngacir! Melesat 1% Lebih, IHSG Tembus 5.300

Melansir data Refinitiv, dalam 2 hari perdagangan saat menjadi juara Asia, rupiah mencatat penguatan lebih dari 1%. Kemudian pagi ini begitu perdagangan dibuka rupiah langsung melesat 0,82% ke Rp 14.550/US$. 

Namun, setelahnya penguatan rupiah terus digerogoti dolar AS, hingga tersisa 0,2% di Rp 14.640/US$ di akhir perdagangan.

Sementara untuk harga obligasi pemerintah bertenor panjang kompak menguat, setelah lelang Surat Berharga Negara (SBN) berujung pada dana perolehan Rp 22 triliun dan terpenuhinya target kupon tertinggi yang dibidik investor sebesar 7,5%.

Baca:

Wall Street Dibuka Fluktuatif, Berayun ke Zona Merah

Kenaikan harga tertinggi terjadi pada SBN berjatuh tempo 5 dan 10 tahun yang terlihat dari penurunan yield (imbal hasil) keduanya sebesar -0,69% dan -0,28% pada Selasa (25/8/2020).

Sebagai catatan, yield surat utang berlawanan arah dari harga, sehingga koreksi yield menunjukkan bahwa harga obligasi tersebut sedang menguat. Yield SBN bertenor 10 tahun menjadi acuan harga pasar obligasi.

Dari dalam negeri dalam Konferensi Pers APBN Kita, Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi kuartal III-2020 bisa negatif sampai 2%.

“Kalau kita lihat di kuartal III downside risk-nya ternyata tetap menunjukkan suatu risiko nyata.”

“Untuk kuartal III outlook-nya antara 0 dan negatif 2%,” kata Sri Mulyani dalam konferensi persnya, Selasa (25/8/2020).

Sri Mulyani memproyeksikan untuk keseluruhan tahun bisa di negatif 1,1% sampai positif 0,2% untuk 2020. Selanjutnya ia juga menanggapi penerimaan pajak yang kembali turun.

“Penerimaan pajak yang sempat menunjukkan peningkatan pada Juni, kemudian melambat kembali pada Juli. Penerimaan pajak ini menggambarkan kondisi ekonomi nasional kita,” katanya, dalam konferensi pers APBN Kita periode Agustus 2020.

Pemulihan ekonomi yang penuh ketidakpastian tergambar dari setoran pajak per sektor. Penerimaan pajak dari industri pengolahan pada Juli terkontraksi -28,91% YoY. Membaik dibandingkan bulan sebelumnya yang -36,18% YoY.

Namun tidak demikian dengan sektor perdagangan. Setoran pajak dari sektor ini turun -27,34% YoY pada Juli. Lebih dalam ketimbang bulan sebelumnya yang -19,91% YoY.

Nasib lebih parah dialami sektor transportasi dan perdagangan. Pada Juli, setoran pajak dari sektor ini mengalami kontraksi 20,93% YoY. Jauh lebih parah ketimbang Juni yang mampu tumbuh 9,63% YoY.

Sektor transportasi menjadi penting karena merupakan sinyal pergerakan orang dan barang. Setoran pajak sektor transportasi yang anjlok menandakan laba dunia usaha di sektor ini nyungsep, yang penurunan mobilitas. Kala mobilitas turun, sulit berharap ekonomi bisa tumbuh.