‘Berdarah-darah’, Malaysia Airlines Mau Tutup?

A Malaysian Airlines passenger aircraft is seen flying in front of the moon, over London, Britain, February 15, 2019. REUTERS/Toby Melville

Jakarta, – Malaysia Airlines bakal ditutup jika lessor-nya (penyewa pesawat) memutuskan untuk tidak mendukung rencana restrukturisasi terbaru maskapai penerbangan itu.

Sebagaimana dimuat media Singapura Straits Times, hal ini disampaikan CEO grup Malaysia Airlines Izham Ismail dalam sebuah wawancara dengan media minggua The Edge.

Baca:

Bangkrut, Maskapai Penerbangan Ini Jual Gorengan

“(Kami) tidak punya pilihan selain menutupnya,” tegasnya dalam wawancara tersebut.

“Ada kreditor yang sudah setuju. Ada yang masih menolak, dan kelompok lain masih 50:50 … Saya perlu mendapatkan 50:50 yang (bergabung) dengan mereka yang telah setuju.”

Baca:

Wow! Utang Malaysia Segunung, Ini Penyebabnya

Ia mengatakan rencana restrukturisasi Malaysia Airlines akan mencapai titik ‘impas’ di 2023. Namun dengan asumsi bahwa permintaan domestik dan Asia Tenggara kembali ke level yang sama seperti 2019, pada kuartal II dan III 2022.

Rencana ini juga membutuhkan dana segar dari pemegang saham BUMN Malaysia itu, perusahaan investasi negara Khazanah Nasional. Ini diperuntukkan guna membantu maskapai 18 bulan ke depan.

Lessor akan memutuskan ini pekan ini. Sehingga maskapai bisa mengambil jalan, apakah akan melakukan restrukturisasi atau lainnya.

Plan B’ bisa saja melibatkan pengalihan sertifikat operator penerbangan (AOC) Malaysia Airlines ke maskapai baru dengan nama berbeda. Atau, memanfaatkan AOC dari ‘sister company’ Firefly dan MASwings.

Sebelumnya sebagaimana dimuat Reuters, sejumlah perusahaan leasing telah menolak rencana restrukturisasi masakapai. Ini membuat perusahaan semakin sulit, sebagaimana dimuat Reuters, akhir pekan lalu.

Lessor yang mengklaim mewakili 70% menyebut rencana itu cacat dan fatal. Bahkan dalam surat yang dimuat media Inggris itu dari sumber dan surat di sebuah firma di London, rencana akan mendapatkan tentangan keras jika terus dilanjutkan.

Covid-19 telah menghalangi upaya Malaysia Airlines pulih seperti sejak awal 2014. Krisis muncul saat itu akibat insiden hilangnya pesawat dengan nomor penerbangan MH370 dan jatuhnya MH17 empat bulan kemudian.

Pandemi membuat maskapai dunia ‘berdarah-darah’ karena lockdown yang dilakukan sejumlah negara termasuk Malaysia Airlines. Maskapai dunia terpaksa melakukan efisiensi, mem-PHK karyawan, dan meminta bantuan bailout pemerintah.

(sef/sef)