Biden Jadi Presiden AS, Awas IHSG Profit Taking!

President-elect Joe Biden speaks, Saturday, Nov. 7, 2020, in Wilmington, Del. (AP Photo/Andrew Harnik)

Jakarta, – Pasar saham dunia termasuk Indonesia di awal pekan, Senin ini (9/11/2020), diprediksi menguat menyambut kemenangan Joe Biden sebagai Presiden ke-46 AS setelah mengalahkan petahana Donald Trump dari Partai Republik.

Hanya saja, analis memandang Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesudah itu sangat rawan mengalami aksi ambil keuntungan alias profit taking dari para investor akibat kenaikan yang cukup besar pada pekan lalu.

Selain itu potensi sengketa politik di AS membawa peluang pelaku pasar melakukan aksi ambil untung.

Baca:

Yusuf Mansur Lepas Saham BRIS, Masya Allah Berapa Cuannya?

“Resistance [batas tahanan atas] IHSG di level 5.381 sampai 5.500 dan support [tahanan bawah] di level 5.246 sampai 5.161,” kata Hans Kwee, Direktur PT Investa Saran Mandiri, dalam risetnya, dikutip Senin (9/11).

Berdasarkan data BEI, dalam sepekan terakhir (2-6 November), IHSG melesat 4,05% dan sebulan terakhir perdagangan naik 6,73%.

Pada Jumat lalu, IHSG ditutup naik 1,43% di posisi 5.335,53 seiring dengan kenaikan bursa Asia di antaranya Hang Seng naik 0,07% dan Nikkei naik 0,91%, sementara indeks Shanghai turun 0,24%.

Pada Jumat lalu, asing memang masuk mencapai Rp 894,96 miliar dalam sehari di pasar reguler, dengan catatan net buy dalam sepekan Rp 869,82 miliar di pasar reguler.

Adapun dalam sebulan terakhir masih terjadi jual bersih atau net sell Rp 1,09 triliun dan secara tahun berjalan atau year to date, asing masih keluar Rp 61,81 triliun.

“Pemilu Amerika Serikat telah berlangsung tanggal 3 November 2020 yang menjadi perhatian pelaku pasar. Indeks di pasar saham mayoritas menguat menyambut potensi Joe Biden memenangkan pemilu,” kata Hans.

Dari hasil prediksi perhitungan tidak resmi menunjukkan Biden berhasil memenangkan pemilu dengan 290 suara elektoral.

Demokrat berdasarkan prediksi berhasil memenangkan suara di Georgia lagi sejak terakhir kali tahun 1992 dan Arizona sejak 1996.

Baca:

Kok Bisa Trump yang Super Power Kalah Telak oleh Joe Biden?

Proyeksi BBC berdasarkan hasil tidak resmi Negara bagian yang telah menyelesaikan perhitungan suara menunjukkan kemenangan Biden dengan 273 suara elektoral.

“Pelaku pasar sangat memperhatikan pemilihan presiden karena mempengaruhi kebijakan Amerika Serikat ke depannya,” jelasnya.

Dia menilai, potensi sengketa pemilu sangat mungkin terjadi. Hal ini tidak lepas dari metode pemilihan umum yang dilakukan, di mana diizinkannya penggunaan pos untuk mengirim surat suara.

Pendukung Demokrat lebih taat protokol kesehatan sehingga banyak mengirim surat suara via pos, sedangkan pendukung Republik banyak datang ke tempat pengambilan suara.

Karena itu diawal perhitungan di beberapa Negara bagian yang mengalami pertarungan berat di awal perhitungan suara Republik mampu menang, tetapi setelah surat suara dari pos dihitung keadaan mulai berbalik.

Supporters of President Donald Trump yell at supporters of President-elect Joe Biden as they protest near the state capitol, Saturday, Nov. 7, 2020, in Austin, Texas. (AP Photo/Eric Gay)Foto: Pendukung Donald Trump memprotes hasil pemilu di dekat gedung DPR negara bagian di Austin, Texas, Sabtu, 7 November 2020,. (AP / Eric Gay)
Supporters of President Donald Trump yell at supporters of President-elect Joe Biden as they protest near the state capitol, Saturday, Nov. 7, 2020, in Austin, Texas. (AP Photo/Eric Gay)

Belum lagi di Negara bagian yang sangat ketat ini selisih suara kedua partai cukup ketat sehingga menimbulkan risiko diperdebatkan.

Di negara bagian dengan pertarungan ketat seperti Georgia, Pennsylvania, Arizona, dan Nevada Biden mampu memimpin setelah surat suara via pos dihitung.

“Trump merasa dicurangi karena pembalikan arah suara ini. Di beberapa negara bagian penting yang menentukan perhitungan suara Trump telah mengajukan gugatan hukum sehingga menaikkan ketidakpastian pasar.”

“Pemilu yang berakhir di pengadilan dikhawatirkan akan membuat pelaku pasar melakukan aksi ambil untung,” katanya lagi.

Dia juga menilai, kemenangan Biden membawa potensi perang dagang antara China dan Amerika Serikat tidak menjadi lebih buruk.

Ada harapan perang dagang AS dengan China, Eropa dan Meksiko akan berhenti. Ini cenderung membuat risiko pasar turun dan menurunkan volatilitas pasar.

“Hal ini cenderung membuat mata uang dunia menguat terhadap USD termasuk yuan, euro, dan lainnya.”

“Rupiah tidak tertinggal dan dalam beberapa hari mengalami penguatan signifikan. Ini juga mendorong dana masuk ke aset berisiko di emerging market,” jelas Hans.

Baca:

Biden Menang, Presiden Negara Ini Bakal Senasib dengan Trump?

[Gambas:Video ]

(tas/tas)