Bosque! Simak 10 Saham Tercuan di Oktober, Ada BRIS dan ANTM

foto : CNBC Indonesia/Muhammad Sabki

Jakarta, – Selamat datang di November. Tapi sebelum mencermati pergerakan saham-saham di hari pertama perdagangan November ini, Senin (2/11/2020), penting juga melihat review pasar sepanjang bulan lalu.

Selama Oktober, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan penguatan 5,11% dalam setelah ditutup pada Selasa pekan lalu (27/10/2020) di level 5.128,23.

Perdagangan pekan lalu pun hanya 2 hari lantaran ada hari libur perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW bagi umat Muslim dan cuti bersama pada 28-30 Oktober.

Ketika libur, IHSG tergolong beruntung, karena pasar saham terutama Asia dari Rabu hingga Jumat kompak mengalami pelemahan, bahkan pada Jumat lalu, bursa Asia melemah parah dengan rata-rata pelemahan sebesar 1% hingga 2%.

Pada penutupan Selasa pekan lalu, IHSG minus 0,31%, tapi dalam sepekan terakhir indeks acuan Bursa Efek Indonesia (BEI) ini naik tipis 0.56%, dan sebulan terakhir 5,11%.

Secara year to date atau tahun berjalan, IHSG masih minus 18,59%.

Berdasarkan data BEI, di tengah penguatan IHSG ini, ada 10 saham yang mencatatkan keuntungan paling besar dalam sebulan terakhir.

10 Saham Paling Cuan Oktober 2020

1. PT Bank BRISyariah Tbk (BRIS), melesat 66,89% di level Rp 1.235/saham, nilai transaksi Rp 7,9 triliun

2. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), 47,55%, Rp 1.055/saham, Rp 8,7 triliun

3. PT Waskita Karya Tbk (WSKT), 45,10%, Rp 740/saham, Rp 1,1 triliun

4. PT Alam Sutera Realty Tbk (ASRI), 37,17%, Rp 155/saham, Rp 842 miliar

5. PT Sarana Meditama Metropolitan Tbk (SAME), 34,96%, Rp 166/saham, Rp 575 miliar

6. PT Barito Pacific Tbk (BRPT), 31,39%, Rp 900/saham, Rp 2,1 triliun

7. PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk (AGRO), 21,57%, Rp 372/saham, Rp 2 triliun

8. PT Astra International Tk (ASII), 18,71%, Rp 5.425/saham, Rp 3,7 triliun

9. PT Pakuwon Jati Tbk (PWON), 16,95%, Rp 414/saham, Rp 865 miliar

10. PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN), 16,90%, Rp 830/saham, Rp 1,3 triliun.

Baca:

Ambisi Jokowi RI Punya Bank Syariah Raksasa, Aset Rp 390 T

Sentimen penguatan saham BRIS tak lain tak bukan soal rencana merger bank syariah BUMN. Saat ini BRIS dalam proses menjadi survivor bank dalam merger bank syariah BUMN dengan menerima penggabungan dari PT Bank Syariah Mandiri (BSM) dan PT Bank BNI Syariah (BNIS).

Target merger akan efektif rampung pada 1 Februari 2021.

Ketua Project Management Office Integrasi (PMO) dan Peningkatan Nilai Bank Syariah BUMN, Hery Gunardi mengatakan total aset bank hasil penggabungan ini nantinya akan mencapai Rp 215,6 triliun dengan modal inti lebih dari Rp 20,4 triliun.

Tidak hanya memiliki aset jumbo, bank hasil leburan ini juga memiliki total pembiayaan sebesar Rp 165 triliun atau setara dengan 44,99% total pembiayaan seluruh bank syariah dan UUS (unit usaha syariah) di Indonesia yang berada di angka Rp 368 triliun.

Terkait dengan merger ini, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan menjadi pemegang saham mayoritas dari BRIS, dengan kepemilikan sebesar 51,2%.

Berdasarkan keterangan resmi, komposisi pemegang saham pada lainnya selain BMRI yang sebesar 51% di BRIS adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) 25,0%, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) 17,4%, DPLK BRI-Saham Syariah 2% dan investor publik 4,4%.

Selain soal merger, kinerja BRIS juga impresif di tengah turunnya kinerja perbankan syariah dan konvensional lainnya.

Baca:

Moody’s Sebut Merger 3 Bank Syariah BUMN Bikin Untung Mandiri

BRIS mencatatkan pertumbuhan laba bersih yang signifikan pada 9 bulan pertama tahun ini atau periode hingga triwulan III 2020, sebesar 238% menjadi Rp 190,58 miliar, dibandingkan periode yang sama tahun lalu yakni Rp 56,46 miliar.

Di sisi aset, perseroan mencatatkan aset sebesar Rp 56 triliun pada triwulan III 2020, meningkat 51,40% dibandingkan triwulan III 2019.

Kinerja positif ini melanjutkan performa yang apik anak usaha PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) ini yang dicapai pada semester I-2020.

Pada periode per Juni lalu, BRIS juga mencatat laba bersih yang melesat sebesar 229,6% menjadi Rp117,2 miliar, dari periode yang sama tahun lalu.

Adapun bagi Antam, ada dua kabar besar yang membuat perusahaan ini menjadi perhatian dalam sebulan terakhir.

Baca:

Berkah Emas & Nikel, Laba Antam Q3 Meroket Jadi Rp 836 M

Pertama, Antam akan menjadi pengelola tambang emas di Papua bernama Blok Wabu, bekas lahan tambang PT Freeport Indonesia.

Kedua, antam akan menjadi lead konsorsium pembangunan pabrik Battery Electric Vehicle atau baterai pabrik listrik raksasa.

Terkait dengan tambang emas Blok Wabu, dikabarkan bahwa potensi cadangan emas dari Blok Wabu, Papua ini bernilai hingga US$ 14 miliar atau sekitar Rp 207,2 triliun (asumsi kurs Rp 14.800 per US$).

Selain itu, kinerja Antam juga sangat baik. Anak usaha MIND ID, Holding BUMN Tambang, ini mencatatkan laba bersih Rp 835,78 miliar pada 9 bulan pertama tahun ini atau per September 2020, naik 3,.28% dari periode yang sama tahun lalu Rp 641,51 miliar.

Sepanjang kuartal III-2020, laba tahun berjalan Antam mencapai Rp 750,95 miliar, melesat 105% dari laba tahun berjalan periode kuartal II-2020 sebesar Rp 366,66 miliar.

Baca:

Halo Bapak-Ibu, Harga Emas Antam Naik Lagi Hampir Rp 1 Juta!

[Gambas:Video ]

(tas/tas)