Bro-Sis November Bulannya Serok Saham,Gak Percaya? Cek Ini!

Oppo Stock In Your Hand (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup bulan Oktober dengan catatan yang sangat apik. Tercatat selama bulan kesepuluh, IHSG berhasil terbang hingga hingga 5,30%.

Bulan lalu, sentimen pasar memang sedang bagus-bagusnya, baik di pasar domestik maupun pasar internasional sehingga investor terutama investor domestik berkerumun untuk masuk ke pasar.

Sentimen positif pada Oktober lalu tentu saja tidak lain dan tidak bukan adalah pengesahan Undang-undang Cipta Tenaga Kerja alias Omnibus Law.

Ya, UU yang dicap akan membawa ‘cilaka’ pagi para buruh sehingga terjadi demonstrasi besar-besaran dari berbagai lapisan masyarakat ternyata membawa berkah tersendiri bagi para investor.

Dengan diberlakukanya Omnibus Law ini tentu membawa sentimen positif bagi perekonomian secara umum dan pasar modal secara khusus dalam jangka panjang.

Baca:

Ini Bocoran Strategi Investasi saat Pandemi Covid-19

Hal ini karena aturan ini akan membereskan ketidakjelasan aturan sebelumnya yang tumpang tindih dan akan menarik investasi asing di sektor riil alias Foreign Direct Investment (FDI) sehingga tentunya hal ini akan menggairahkan pasar modal.

Kenaikan IHSG selain disokong oleh Omnibus Law memang juga dibantu oleh keputusan Gubernur DKI Jakarta, Anies Baswedan untuk memperlonggar PSBB (pembatasan sosial berskala besar) di Ibu Kota sehingga roda perekonomian bisa berputar dengan lebih cepat lagi.

Tak ayal pada bulan lalu indeks acuan Ibu Pertiwi terbang.

Akan tetapi apakah catatan positif tersebut mampu dilanjutkan IHSG pada November ini?

Bagaimana dengan bulan-bulan November lalu, apakah bulan kesebelas ini bersahabat dengan IHSG?

FYI, sebenarnya November secara rata-rata adalah bulan yang cukup baik bagi IHSG.

Tercatat rata-rata selama 20 tahun terakhir IHSG menguat pada bulan ini sebesar 0,88%.

Bahkan apabila selama 20 tahun terakhir Anda hanya berinvestasi pada bulan November, maka capital gain (keuntungan dari kenaikan harga saham) dari portofolio Anda sangatlah jumbo yakni 45,54%.

Hal ini tentu saja akan membuat investor bingung. Sebab pada November, ternyata IHSG justru paling sering membukukan koreksi, atau 11 kali penurunan dan hanya 9 kali penguatan. 

Meskipun pada November IHSG lebih sering terkoreksi, sejatinya koreksi pada bulan ini hanya tipis-tipis saja dalam 20 tahun terakhir. Koreksi IHSG pada bulan November terbesar hanya terjadi pada 2013 silam kala itu IHSG terkoreksi 5,64%.

Sedangkan, tren IHSG melesat khusus di November memang tidak tanggung-tanggung secara historis. Tercatat IHSG sempat terbang 13,63% pada 2004 silam dan 8,61% pada 2006 lalu.

Baca:

Emiten Milik Heru Hidayat Protes Kejagung Sita Aset Perseroan

Hijaunya pasar sahan di November sendiri bukanlah fenomena baru sebab para investor pada bulan ini sudah bersiap-siap menyambut akhir tahun di mana pada Desember seringkali terjadi santa claus rally atau window dressing (istilah yang dikonotasikan memoles kinerja jelang tutup tahun).

Kedua fenomena tersebut terjadi biasanya karena para manajer investasi (MI) berusaha menghijaukan portofolio dengan cara menjual saham-saham yang merugi dan mengantinya secara bersamaan ke saham-saham yang berpotensi untung dalam jangka pendek.

Dengan demikian, aksi window dressing dengan membeli saham-saham yang hijau tersebut akan berimbas pada tampilan kinerja portofolio mereka supaya terlihat cantik saat akhir tahun.

Di tengah kondisi ini, ada kencenderungan para investor ingin mengejar santa claus rally alias reli-reli saham di Desember, bulan yang terkenal bersahabat dengan investor ini.

Biasanya tipikal swing investor yang suka jangka pendek lebih doyan masuk pada bulan November.

TIM RISET

Baca:

Laba Telkom Naik 1,33% Jadi Rp 16,7 Triliun

[Gambas:Video ]

(trp/trp)