Bukan Gertak Sambal, 3 Emiten China Didepak dari Wall Street

FILE -In this June 16, 2020 file photo, a sign for a Wall Street building is shown in New York. Earnings reporting season is about to get underway for big companies, and the forecasts are grim. Wall Street expects S&P 500 companies to report profits plunged by the most since the depths of the Great Recession during the second quarter. Earnings reports tend to matter deeply to investors because stock prices track the path of earnings over the long term.   (AP Photo/Mark Lennihan, File)

Jakarta, – Bursa Saham New York atau NYSE memutuskan untuk mendepak tiga emiten asal China yang berada di bursa saham itu. Hal ini merupakan kelanjutan dari blacklist yang diterapkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kepada beberapa perusahaan asal negeri tirai bambu itu.

Dikutip International, NYSE mengatakan bahwa mereka akan menghapus China Telecom Corp. Limited, China Mobile Limited, dan China Unicom Hong Kong Limited per 31 Desember 2020. Sebelumnya, Trump menandatangani perintah pada November yang melarang orang Amerika berinvestasi di perusahaan yang diduga terkait dengan militer China, termasuk di dalamnya ketiga perusahaan tersebut dan 32 perusahaan lain.

Baca:

Maaf Minyak 2021, Prediksi OPEC Masih Suram

Larangan investasi akan mulai berlaku pada 11 Januari, hanya beberapa hari sebelum Presiden terpilih Joe Biden akan dilantik. Menurut NYSE, perdagangan ketiga perusahaan tersebut kemungkinan akan dihentikan paling cepat 7 Januari atau paling lambat 11 Januari.

Sementara itu, Kementerian perdagangan China melontarkan bahwa Beijing akan mengambil langkah-langkah serius dalam menanggapi hal ini. Mereka menuduh bahwa AS telah menyalahgunakan kekuasaan kepada perusahaan China.

Baca:

Hasil Uji Klinis Vaksin Sinopharm Tak Konsisten, Ada Apa?

“(AS) menyalahgunakan keamanan nasional dan menggunakan kekuasaan negara untuk menindak perusahaan China,” kata pernyataan itu dikutip Senin (4/1/2021).

Ini dikatakan tidak sejalan dengan aturan dan logika pasar. Tidak hanya merugikan hak-hak sah perusahaan China, tetapi juga juga kepentingan investor di negara lain, termasuk AS.

Selain itu, mengutip media Chin, Global Times, China berjanji akan mengambil langkah-langkah yang tegas demi melindungi kepentingan perusahaan negaranya. “Kami akan mengambil tindakan yang diperlukan untuk secara tegas melindungi hak dan kepentingan sah perusahaan China,” pungkas lembaga itu.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)