Cari Cuan di LQ45, Simak 5 Saham Valuasi Paling ‘Murah’

Infografis: Anggota baru Indeks LQ45 Yang Masuk dan Yang Terdepak

Jakarta, Seiring dengan melesatnya Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) hingga 12% dalam 3 pekan terakhir banyak saham-saham unggulan yang harganya juga melesat tinggi.

Dengan melesatnya harga-harga saham tersebut banyak investor yang belum sempat masuk ke pasar merasa ‘ketinggalan kereta’, meskipun demikian ternyata masih banyak saham-saham unggulan yang ternyata valuasinya lebih murah.

Kategori saham-saham unggulan ini sendiri adalah saham yang menjadi anggota Indeks LQ45. Saham indeks LQ45 termasuk unggulan karena LQ45 merupakan indeks dengan konstituen perseroan yang memiliki kondisi keuangan yang sehat, prospek pertumbuhan yang tinggi, serta nilai transaksi yang likuid.

Baca:

Derita 9 Saham LQ45, Hancur Lebur karena Ambles 40% Lebih

Sedangkan kategori murah dinilai dari valuasi laba bersih dibandingkan dengan harga saham tersebut atau biasa lebih dikenal dengan Price Earnings Ratio (PER). Simak tabel berikut.

Secara valuasi harga dengan menggunakan metode PER, saham produsen PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) tergolong paring murah dengan PER sebesar 3,48.

Akan tetapi secara historis saham SRIL memang selalu dihargai murah oleh para investor karena perusahaan besutan Iwan Lukminto ini pernah terjerat kasus dugaan pencemaran sungai Begawan Solo sehingga tata kelola perusahaan (GCG) dipertanyakan.

Duo pabrik kertas Sinarmas juga berhasil masuk ke daftar ini yakni PT Pabrik Kertas Tjiwi Kimia Tbk (TKIM) dan PT Indah Kiat Pulp and Paper Tbk (INKP) juga berhasil masuk ke daftar ini dengan PER masing-masing 6,95 dan 8,92.

Baca:

Bukan BCA atau Mandiri, Ini Dia Deretan Saham Jawara LQ45!

Valuasi PER kedua perusahaan terlihat murah karena laba bersih kedua perusahaan berhasil melonjak pada kuartal pertama tahun ini setelah permintaan kertas yang meningkat dan rupiah yang melemah sehingga menguntungkan para importir.

Selanjutnya muncul pula nama perusahaan batu bara Pelat Merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) yang memang secara historis saat ini harganya masih tergolong murah sehingga masih menarik untuk dikoleksi.

Dilansir dari Refinitiv, dengan PER sebesar 10,77 kali, PTBA lebih baik daripada rata-rata perusahaan batu bara yang memiliki PER minus karena merugi pada tahun ini akibat diserang pandemi virus corona.

TIM RISET

[Gambas:Video ]

(trp/trp)