Cek! Asing Lepas 10 Saham Ini Sepekan, Saatnya Ritel Masuk?

IHSG ditutup akhir Bulan 6.188,99 poin pada Kamis (29/3/2018). (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, – Bursa saham Indonesia mampu bertahan di zona hijau sepanjang perdagangan pekan lalu yang berlangsung hanya empat hari lantaran libur Tahun Baru China atau Imlek di Jumat (12/2/2021).

Data perdagangan Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatat, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup naik 0,33% di level 6.222,52 pada Kamis (11/1/2021) dan dalam sepekan menguat 1,89% kendati investor asing melakukan aksi jual masif di tengah minimnya katalis positif di bursa domestik.

Nilai perdagangan selama sepekan tercatat sebesar Rp 72,1 triliun, dengan 75,2 miliar saham berpindah tangan sebanyak 6,6 juta kali frekuensi perdagangan. Investor asing membukukan penjualan bersih (net sell) senilai Rp 573,8 miliar.

Berikut 10 saham dengan catatan jual bersih di pasar reguler terbesar dalam sepekan perdagangan hingga 11 Februari 2021.

10 Top Net Foreign Sell (Reguler) Sepekan

1. Indofood CBP (ICBP), net sell Rp 343 M, saham -3,75% Rp 8.975

2. Astra International (ASII), Rp 273 M, saham -5,65% Rp 5.850

3. Bank Mandiri (BMRI), Rp 259 M, saham -1,14% Rp 6.500

4. Vale Indonesia (INCO), Rp 149 M, saham +8,97% Rp 6.375

5. PGN (PGAS), Rp 146 M, saham -2,74% Rp 1.420

6. Telkom (TLKM), Rp 98 M, saham -3,04% Rp 3.190

7. Tower Bersama (TBIG), Rp 78 M, saham -10,73% Rp 2.080

8. XL Axiata (EXCL), Rp 73 M, saham -2,90% Rp 2.340

9. Indofood Sukses (INDF), Rp 60 M, saham -0,40% Rp 6.300

10. HM Sampoerna (HMSP), Rp 42 M, saham -0,72% Rp 1.385

Saham Indofood CBP dan induknya INDF cukup mengalami tekanan dalam sepekan terakhir. Saham produsen Indomie ini ditutup 0,28% di level Rp 8.975/saham pada Kamis pekan lalu sebelum libur Imlek di Jumat (12/2/2021), sehingga dalam sepekan minus 3,75%.

Dalam sebulan terakhir saham produsen makanan milik Grup Salim ini turun 4,01%. Sebulan terakhir asing juga keluar Rp 756 miliar di pasar reguler.

Adapun saham INDF ditutup naik 2,86% pada Kamis lalu di level Rp 6.300/saham, tapi sepekan minus 0,40%. Sebulan saham INDF turun 6,32% dengan catatan jual bersih asing Rp 260 miliar.

Baca:

Saham Sudah Mahal tapi Nanjak Terus, PER-PBV Gak Ngefek Lagi?

Dari sisi analisis sektoral tahun ini, Chief Investment Officer Insight Investment Management, Genta Wira Anjalu menilai pergerakan pasar keuangan di 2021 ini akan lebih didorong oleh faktor likuiditas, di mana reli pasar saham akan sangat tergantung dengan arus dana yang banyak berasal dari stimulus moneter.

Genta juga menyebutkan beberapa sektor yang berprospek baik di 2021 yaitu perbankan, komoditas, telekomunikasi, konsumer dan health care (kesehatan) di tengah vaksin Covid-19.

Sementara itu, Analis Ekuitas NH Korindo, Ajeng Kartika, mengatakan pergerakan harga saham satu emiten juga ditentukan dari sentimen apa yang sedang mempengaruhi. Tapi ada beberapa sektor yang dianggap sebagai sektor yang aman untuk dimiliki oleh investor, seperti perbankan, konsumer, dan telekomunikasi.

Hanya saja, pemilihan sektor atau saham bagi investor kembali lagi tentu memperhatikan profil risiko si calon investor dan horizon investasi apa yang dipilih, jangka pendek atau jangka panjang.

“Tapi balik lagi ke risk profile karena berhubungan dengan toleransi kerugian, kalau tinggi [berani ambil risiko] dia masuknya ke persentase 70% [saham agresif], 30% di sektor [saham-saham bertipe] defensive sisanya sektor lainnya. Kalau dia investor moderat bisa 50%-50% atau kalau dia agresif bisa ambil 30% [saham] defensif sisanya saham-saham cyclical,” katanya, dalam program InvesTime, pekan lalu.

Baca:

Awas! Penipuan Kedok Investasi Saham, Rekening Dibobol

[Gambas:Video ]

(tas/tas)