Centro Pailit, Giant Tutup, Begini Ramalan Sektor Ritel RI!

Gerai Giant Mampang yang Akan Tutup (CNBC Indonesia/ Andrean Kristianto)

Jakarta, Indonesia – Cerita pailitnya pengelola Centro Departement Store, PT Tozy Sentosa, dan tutupnya seluruh gerai Giant yang dikelola PT Hero Supermarket Tbk (HERO) menjadi sinyal tekanan berat dialami sektor ritel Tanah Air.

Pada Juli mendatang, HERO memang akan menutup seluruh gerai Giant dan mengubahnya menjadi IKEA dan Hero Supermarket. Ritel lainnya juga tertekan. PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) dan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) juga merugi.

Direktur HERO Hardianus Wahyu Trikusumo mengatakan keputusan menutup operasi Giant memang sebagai respons cepat serta tepat dari perusahaan yang diperlukan untuk beradaptasi terhadap perubahan dinamika pasar.

“Apalagi saat ini konsumen Indonesia dari format hypermarket dalam beberapa tahun terakhir, sebuah fenomena yang juga terjadi di pasar global,” katanya, dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Patrik Lindvall Presiden Direktur HERO, dalam penjelasan 30 April lalu juga menegaskan kinerja keuangan bisnis ritel groseri HERO terus terkena dampak secara signifikan oleh pandemi.

Pembatasan sosial yang ketat, larangan perjalanan domestik dan khususnya, penutupan atau pemberlakuan pembatasan-pembatasan yang ketat di pusat perbelanjaan/mal telah mengubah pola belanja pelanggan secara substansial dan mengurangi jumlah kunjungan pelanggan ke lokasi-lokasi ini.

Menanggapi tekanan bertubi-tubi sektor ritel ini, analis PT NH Korindo Sekuritas Putu Chantika mengatakan pemulihan sektor ritel ini tergantung kepada dua hal.

Pertama, bagaimana caranya pemerintah bisa kembali meningkatkan daya beli masyarakat. Daya beli yang membaik dan kembali ke normal itu akan memberikan dampak positif bagi sektor ritel, terutama ke peningkatan penjualannya.

Kedua, dari sisi perusahaan ritel itu sendiri. Bagaimana manajemen melakukan strategi agar tidak mengalami kerugian yang besar. Misalnya bisa melakukan efisiensi biaya operasional agar tidak berbanding jauh dengan pemasukan yang alami penurunan.

“Jadi memang tergantung dari apa yang mereka tawarkan ke konsumen dan bagaimana perusahaan itu bergerak menghadapi situasi ini,” ujarnya dalam program InvesTime Indonesia, dikutip Senin (31/5/2021).

NEXT: Kinerja Q1-2021 Belum Pulih

Baca:

Ternyata Gegara Ini Giant ‘Menyerah’, 7.000 Pegawai Bakal PHK