Cerita India Bangun ‘Kerajaan’ Internetnya Sendiri

Jakarta, – Ekosistem Digital India sedang berkembang. Ini diikuti dengan langkah berani pemerintah setempat untuk menghukum banyak aplikasi yang berasal dari luar India.

Salah satu yang mendapat berkah adalah jejaring sosial India, Koo yang mendapat perhatian mendadak dari pemerintah.

“Rasanya seperti tiba-tiba masuk ke final Wolrd Cup dan semua orang melihat Anda dan tim,” kata salah satu pendiri Koo, Mayank Bidawatka dikutip CNN, Selasa (9/3/2021).

Koo menjadi kebanggaan India dan pejabat setempat telah banyak yang menggunakannya dengan diunduh sebanyak 3,3 juta kali sepanjang tahun ini. Jumlah itu memang belum cukup untuk mengalahkan raksasa media sosial Twitter yang diunduh 4,2 juta selama periode yang sama.

Pilihan Redaksi
  • Tegas! Jokowi Ogah RI Cuma Jadi Korban Raksasa Digital Dunia
  • Tegas! Jokowi Ogah RI Jadi Korban Perdagangan Digital
  • Luhut Pamer Ekonomi Digital RI Kalahkan Malaysia & Singapura

Koo baru saja diluncurkan kurang dari setahun mendadak populer pada Februari lalu. Penyebabnya karena pemerintah memanggil Twitter yang dianggap tak berbuat cukup banyak untuk melakukan pemblokiran akun.

Twitter jadi salah satu nama dari banyak aplikasi yang ditekan oleh pemerintah India beberapa waktu lalu pada perusahaan teknologi global.

Sebut saja melakukan pembatasan ketat pada aplikasi seperti Facebook, Twitter dan Youtube. Selain itu ada juga laporan ancaman karyawan aplikasi-aplikasi tersebut dengan hukuman penjara.

Kejadian itu tak lama setelah India melakukan pemblokiran masal pada aplikasi asal China. Beberapa korbannya adalah Tiktok dan juga WeChat yang tak bisa lagi diakses di negara itu.

Sejumlah kejadian ini nampaknya dimanfaatkan betul oleh pengembang dalam negeri. Layanan asal India tumbuh dan muncul mencoba memanfaatkan nasionalisme pada bidang teknologi tersebut.

Selain Koo ada sejumlah platform lain yang berkembang di India. Misalnya MX Taka Tak yang disebut mirip seperti platform video pendek Tiktok setta ada juga Moj.

Menurut laporan Sensor Tower, kedua aplikasi mengungguli para raksasa teknologi global yakni Snapchat, Instagram, Facebook dan WhatsApp menjadi yang paling banyak diunduh.

Bidatwaka menyayangkan kejadian yang menimpa Twitter. Namun dia tak menutup mata bahwa telah memberikan dorongan pada aplikasi di India termasuk Koo.

Menurutnya aplikasi-aplikasi India punya keuntungan karena memiliki pemahaman pasar lebih baik. Faktor ini juga yang membuat perusahaan global gagal di dalam negeri, padahal mereka menjadikan India jadi bagian Roadmap masing-masing, ungkap Bidatwaka.

“Kami punya talenta, punya sumber daya, beberapa dari kami punya pengalaman, ada pendanaan yang tersedia untuk impian bisa diwujudkan. Dan mimpi besar ini, kami berbicara soal menciptakan produk yang relevan pada populasi internet terbesar kedua di dunia,” kata dia.

[Gambas:Video ]

(roy/roy)