China Vs AS Bikin Stres! Ribut Terus, ‘Perang’ Terus….

China Vs AS Bikin Stres! Ribut Terus, 'Perang' Terus....

Jakarta, – Pandemi Covid-19 telah membuat dunia dilanda krisis kesehatan, lantas memicu perlambatan ekonomi di berbagai negara. Risiko resesi global pun muncul.

Tidak hanya itu, pandemi Covid-19 kini menimbulkan masalah baru, yaitu memburuknya hubungan Amerika Serikat (AS) dan China.

Presiden AS Donald Trump menuduh China lalai dalam menangani virus corona baru penyebab Covid-19 hingga menjadi pandemi. AS kemudian menagih kompensasi hingga berencana menaikkan bea masuk impor. Akibatnya, babak baru perang dagang kedua negara berisiko muncul kembali.




China tidak terlalu banyak merespons serangan AS. Akan tetapi, mereka memiliki “senjata” yang bisa digunakan untuk menyerang balik AS, yaitu ‘senjata’ obligasi atau treasury AS.

INFOGRAFIS, Damai Perang Dagang As-China Berujung KebuntuanFoto: Infografis/Perang Dagang AS-China/Edward Ricardo
INFOGRAFIS, Damai Perang Dagang As-China Berujung Kebuntuan

Per Februari lalu, China dilaporkan memiliki treasury AS senilai US$ 1,092 triliun, menjadikannya negara pemegang obligasi terbesar kedua di dunia. China hanya kalah dari Jepang yang memiliki treasury senilai US$ 1,268 triliun, sebagaimana dilansir Reuters.

Jika China melepas treasury yang dimiliki, maka kurs dolar AS bisa jeblok, harga treasury akan merosot dan yield-nya melesat naik, suku bunga juga akan terkerek naik. Pada akhirnya ekonomi AS yang sudah merosot akibat pandemi Covid-19 akan semakin nyungsep. Tetapi jika hal tersebut juga bakal memicu gejolak finansial global, dan tentunya akan berbalik memukul perekonomian China juga.

Oleh karena itu, Ekonom ING Bank di China, Iris Pang, mengatakan China tidak akan melepas treasury yang dimiliki dalam jumlah besar dan waktu singkat, kecuali mereka tidak punya pilihan lain. China dikatakan akan mempertimbangkan langkah-langkah lain, salah satunya mengurangi jumlah pembelian treasury yang baru diterbitkan.

“Dalam beberapa bulan ke depan, China kemungkinan akan berhenti membeli treasury untuk menunjukkan niatnya ke AS. Jika hal tersebut dilakukan, maka China bisa saja melepas Treasury AS setelahnya,” kata Pang, sebagaimana dilansir South China Morning Post.

Bukan kali ini saja China dikabarkan akan menggunakan treasury sebagai senjata melawan AS. Persis satu tahun yang lalu, China juga dikabarkan berencana melepas treasury saat perang dagang kedua negara sedang panas-panasnya.

Memburuknya hubungan kedua negara bermula dari AS yang menuduh China menutup-nutupi wabah di awal kemunculan sehingga kini wabah itu menyebar ke seluruh dunia dan menyebabkan kematian banyak orang serta merugikan perekonomian.

Menanggapi hal tersebut, Pemerintah China bersikap diplomatis. Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Geng Shuang menyatakan AS bukanlah musuh China.

“Masyarakat AS harus jelas terkait hal ini: China bukan musuh mereka,” ujar Geng dalam konferensi pers seperti dilansir CNN International, Senin (20/4/2020).

“Kami berharap orang-orang di AS menghargai fakta, sains, dan konsensus internasional. Mereka harus berhenti menyerang dan menyalahkan China, membuat pernyataan yang tidak bertanggung jawab, dan lebih fokus pada situasi domestik dan kerja sama internasional,” katanya.

Baca:

AS vs China, Mata Uang Negara Berkembang Sulit Lawan Dolar?

Tetapi Presiden AS Donald Trump, malah terus menyerang China dan berencana menuntut kompensasi. Namun, Trump menyatakan belum bisa menentukan jumlah akhir dari biaya kompensasi tersebut.

Tetapi ia menyebut biaya itu lebih besar dari yang disebutkan oleh seorang editor media terkemuka Jerman yang baru-baru ini meminta China membayar ganti rugi ke Jerman senilai US$ 165 miliar atau sekitar Rp 2.475 triliun untuk menutupi kerugian ekonomi Jerman akibat Covid-19.

“Jerman melihat beberapa hal, kami melihat beberapa hal juga,” katanya, menurut AFP, Senin (27/4/2020). “Kami berbicara tentang lebih banyak uang daripada yang dibicarakan Jerman.”

Tidak hanya kompensasi, Trump juga mengatakan bisa saja mengenakan bea masuk impor dalam konferensi pers dengan wartawan di Gedung Putih, pekan lalu, seperti dikutip AFP.

Selain itu, Trump juga menuduh virus corona berasal dari Institut Virologi Wuhan, sebuah laboratorium di China. Bahkan ia mengatakan memiliki kepercayaan sangat tinggi.

“Saya tidak bisa memberi tahu Anda tentang ini. Saya tidak diizinkan memberi tahu kepada Anda [wartawan] soal ini,” kata Trump.

Trump bahkan mengancam akan membatalkan kesepakatan dagang fase I yang dicapai pada bulan Januari lalu jika China gagal memenuhi janjinya untuk membeli barang dan jasa milik AS senilai US$ 200 miliar.

Dalam kesepakatan dagang fase I, AS menurunkan bea masuk impor dari sebelumnya 15% menjadi 7,5% terhadap produk China senilai US$ 120 miliar. Sementara China akan membeli produk AS senilai 200 miliar dalam dua tahun ke depan.

Terus diserang tentu membuat China mulai gerah dan mempertimbangkan langkah-langkah balasan jika benar AS kembali menaikkan bea impor atau membatalkan kesepakatan dagang fase I. Apapun itu, perang melawan Covid-19 masih belum berakhir, jika perang dagang kedua negara kembali berkecamuk, perekonomian global diramal akan mengalami resesi dalam waktu yang panjang.

Hal tersebut diungkapkan oleh Peter Chatwell, kepala strategi multi-aset di Mizuho International Plc. London.

“Jika ini (perang dagang) tereskalasi maka sentimen akan rusak, dan harapan pemulihan ekonomi yang sebelumnya U-shape akan lebih mendatar menjadi L-shape” kata ekonom Mizuho International Plc Peter Chatwell sebagaimana dilansir Bloomberg News.

L-shape merupakan pemulihan ekonomi yang lebih dramatis ketimbang U-shape dan V-shape.

Merosotnya perekonomian global hingga mengalami resesi akibat pandemi Covid-19 di tahun ini diprediksi bisa segera bangkit ketika Covid-19 berhasil dihentikan. Oleh karena itu, perekonomian diprediksi akan membentuk kurva V-shape.

Tetapi banyak yang meragukan hal tersebut, dan kurva U-shape dikatakan lebih tepat, di mana perekonomian mengalami resesi dan agak lama berada di bawah sebelum akhirnya bangkit. Sementara dalam L-shape perekonomian global mengalami resesi, kemudian memerlukan waktu yang sangat lama untuk bisa pulih.

[Gambas:Video ]

(miq/dru)