Corona di Eropa Pancing Ketakutan, Wall Street Loyo

FILE -In this June 16, 2020 file photo, a sign for a Wall Street building is shown in New York. Earnings reporting season is about to get underway for big companies, and the forecasts are grim. Wall Street expects S&P 500 companies to report profits plunged by the most since the depths of the Great Recession during the second quarter. Earnings reports tend to matter deeply to investors because stock prices track the path of earnings over the long term.   (AP Photo/Mark Lennihan, File)

Jakarta, – Wall Street Amerika Serikat (AS) kembali melemah di penutupan Kamis (15/10/2020). Buruknya sentimen dari dalam dan luar negeri menjadi peyebab.

Dow Jones turun 0,1% ke 28.494,2. Sementara S&P 500 kehilangan 0,2% ke 3.483,34 dan Nasdaq turun 0,5% ke 11.713,87.

Baca:

Waspada, Lockdown di Mana-mana!

Dari dalam negeri, ada ketidakpastian jelang Pemilihan Presiden AS, 3 November nanti. Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan akan memberi stimulus ke bisnis lebih dari US$ 1,8 miliar.

Namun Menteri Keuangan Steven Mnuchin menegaskan bahwa kesepakatan dengan Demokrat di Kongres akan sulit dilakukan sebelum pemilihan umum.

Baca:

Kasus Covid Naik, Dow Jones Kehilangan 325 Poin di Pembukaan

“Kami benar-benar membutuhkan dukungan bipartisan, kami tidak dapat melakukan ini sendiri, jadi saya akan terus bernegosiasi sampai kami dapat menyelesaikan kesepakatan,” kata Mnuchin di International.

Melonjaknya kasus corona (Covid-19) di Eropa menjadi menyebab. Benua itu kini memperketat kembali pembatasan.

Prancis memperkuat langkah penguncian untuk membendung virus corona (Covid-19). Negara ini memberlakukan jam malam di 9 kota, termasuk Paris.

Aturan akan mulai berlaku, Sabtu (17/10/2020). Jam malam akan diberlakukan dari pukul 21.00 hingga 06.00 hingga enam minggu.

Kanselir Jerman Angela Merkel mengumumkan langkah lebih ketat untuk menekan pertemuan warga. Ia pun memaksa penduduk menggunakan masker.

“Saya yakin apa yang kami lakukan sekarang akan menentukan bagaimana kami melewati pandemi ini,” kata pemimpin itu.

Hal senada juga dilakukan di Spanyol, di mana bar dan restoran akan ditutup di wilayah Catalonia selama 15 hari ke depan. Di Belanda, pemerintah membatasi penjualan alkohol dan membuat aturan baru soal masker.

Di Irlandia, Perdana Menteri Irlandia Micheal Martin mengumumkan serangkaian pembatasan baru. Termasuk penutupan gerai ritel non-esensial, pusat kebugaran, kolam renang, dan pusat rekreasi.

(sef/sef)