Data Ritel Kurang Oke, Wall Street Turun Tipis di Pembukaan

Trader Timothy Nick works in his booth on the floor of the New York Stock Exchange, Thursday, Jan. 9, 2020. Stocks are opening broadly higher on Wall Street as traders welcome news that China's top trade official will head to Washington next week to sign a preliminary trade deal with the U.S. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada Jumat (14/8/2020), mengaburkan peluang indeks S&P 500 mencetak rekor tertinggi baru di tengah penjualan ritel yang kurang memuaskan.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 80 poin (-0,3%) pada pembukaan perdagangan pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB), dan 30 menit kemudian relatif sama dengan minus 83,18 poin (-0,3%) ke 27.813,54. Nasdaq melemah 40,72 poin (-0,37%) ke 11.001,78 dan S&P 500 turun 6,18 poin (-0,18%) ke 3.367,25.

“Pembalikan negatif indeks S&P 500 dan ketakmampuannya mencetak rekor tertinggi baru akan jadi sorotan. Namun, aksi jual dalam perdagangan tercatat lebih ringan ketimbang pada Kamis,” tutur Frank Cappelleri, Direktur Eksekutif Instinet, dalam laporan riset, yang dikutip International.

Jika benar indeks tersebut menembus level tertinggi baru, ini akan menjadi pemulihan tercepat dari koreksi terbesar dalam sejarahnya yakni sebesar 30%, mengutip data Ned Davis Research. Namun, pasar minim pasokan sentimen positif di tengah mentoknya pembahasan stimulus.

Ketua DPR Nancy Pelosi, yang juga petinggi Partai Demokrat AS, mengatakan bahwa pihaknya tak akan memulai kembali pembicaraan dengan partai Republik hingga mereka menaikkan nilai total bantuan stimulus sebesar US$ 1 triliun.

Hal ini diamini penasihat ekonomi Gedung Putih Larry Kudlow yang kepada International mengatakan bahwa pihaknya dan Partai Demokrat menghadapi “kebuntuan.”

“Melihat kondisi kebuntuan fiskal sekarang, sangat kecil kemungkinan bahwa konsumen mendapat dukungan fiskal tambahan pada Agustus. Dengan kata lain, outlook September sangat bergantung pada kebijakan fiskal,” tutur Aneta Markowska, Kepala Ekonom Jefferies, dalam laporan riset, yang dikutip International.

Namun, penjualan ritel Juli tercatat hanya naik 1,2%, meski masih di bawah konsensus Dow Jones sebesar 2,3%. Mengecualikan otomotif, penjualan ritel nak 1,9% atau masih lebih baik dari konsensus sebesar 1,2%.

TIM RSET

[Gambas:Video ]

(ags/ags)