Dear Investor, Ini Rentetan Mega Aksi Korporasi Emiten, Simak

Anthoni Salim

Jakarta, – Waktu berlalu hingga 2020 berakhir. Sepanjang tahun lalu, ada begitu banyak rangkaian peristiwa, terutama aksi korporasi perusahaan terbuka atau emiten, yang menarik perhatian pelaku pasar sehingga bisa menjadi pertimbangan investor.

Aksi korporasi itu misalnya, mulai dari Bangkok Bank yang mencaplok PT Bank Permata Tbk (BNLI) hingga keputusan besar Grup Astra melepas Prijono Sugiarto dari posisi Direktur Utama, yang kemudian digantikan Djony Budiarto Tjondro.

Menilik peristiwa hampir 12 bulan ke belakang, tahun ini ada beberapa perbedaan, terlihat dari nilai aksi korporasi periode Januari hingga Juni 2020, menurut data Bursa Efek Indonesia (BEI), yang mengalami penurunan menjadi Rp 14,10 triliun dibanding tahun sebelumnya Rp 14,15 triliun.

Pada semester I-2019, bahkan lebih tinggi lagi, yakni Rp 32,48 triliun. Jumlah perusahaan yang melakukan aksi korporasi semester pertama 2020 ada 50 perusahaan dari periode semester pertama 2019 sebanyak 58 perusahaan.

Pandemi virus Corona menyebabkan banyak perusahaan lebih mengencangkan ikat pinggang ketimbang melakukan aksi korporasi.

Secara rinci, total nilai aksi korporasi pada 6 bulan pertama 2020 sebanyak Rp 4,55 triliun berupa rights issue (penerbitan saham baru) yang dilakukan oleh 6 perusahaan.

Baca:

Pahit! Saham-saham Ini Bikin IHSG Tutup 2020 Merah

Selanjutnya, private placement (penerbitan saham baru tanpa hak memesan efek) sebesar Rp 1,73 triliun oleh 5 perusahaan. Lalu, Rp 8,13 triliun berupa penerbitan waran dan dilakukan oleh 37 perusahaan. Terakhir, sebanyak Rp 7,3 miliar berupa program kepemilikan saham manajemen dan karyawan atau Program MESOP (pemberian saham kepada manajemen dan karyawan) oleh 2 emiten.

Pada Rabu (30/12/2020), Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) akhirnya ditutup turun 0,95% di level 5.979,07, perdagangan terakhir ini ditutup oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto.

Secara year to date IHSG terkoreksi 5,09%, kendati secara 6 bulan terakhir melesat 19,87%.

Sebagai perbandingan, tahun 2019, saat penutupan perdagangan saham, IHSG ditutup turun 29,77 poin atau 0,47% ke posisi 6.299,53.

BEI mencatat total emiten baru yang melakukan penawaran umum saham perdana atau initial public offering (IPO) dan tercatat (listing) tahun 2020 mencapai 51 perusahaan. Jumlah ini menjadi yang tertinggi di ASEAN.

Meski demikian, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto saat pidato penutupan pasar saham, menyoroti nilai IPO dari 51 emiten tersebut. Sebab, nilai IPO hanya sebesar Rp 5,28 triliun.

Berikut rentetan aksi korporasi besar pada 2020 yang bisa menjadi pertimbangan tahun ini bagi pelaku pasar.

Semester I-2020

1.Garuda Membatalkan Penerbitan Surat Utang Rp 12,6

Di awal tahun, emiten maskapai pelat merah PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membatalkan rencana menerbitkan instrumen surat utang senilai US$ 900 juta atau setara Rp 12,6 triliun.

Dalam keterbukaan informasi yang disampaikan manajemen Garuda, pembatalan ini mempertimbangkan beum tersedianya laporan keuangan penelahaan terbatas atau limited review sampai dengan tanggal pelaksanaan RUPS.

“Perseroan saat ini masih melakukan pengkajian alternatif pendanaan lain untuk memastikan tetap terealisasinay tujuan refinancing utang jatuh tempo,” tulis pengumuman yang ditandatangani Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko, Fuad Rizal, dikutip Senin (6/02/2020). Saat ini Fuad Rizal tidak menjabat lagi setelah manajemen GIAA dirombak Menteri BUMN Erick Thohir.

Baca:

2020, Rupiah Runner Up Terburuk di Asia, Yuan Jadi Juaranya!

2.Rights Issue Jumbo Chandra Asri Rp 62 T

Berikutnya, ada kabar dari Pemegang saham emiten petrokimia, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA) menyetujui rencana penambahan modal melalui skema Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Bisa (RUPSLB), Rabu (5/2/2020).

Dengan demikian, TPIA, berpotensi menggalang dana rights issue jumbo bila mengacu pada prospektus terkait rencana penerbitan saham baru sebanyak-banyaknya 7,16 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 200 per saham.

Belum ditetapkan harga pelaksanaan dari rights issue ini. Namun, bila mengacu pada data perdagangan per sesi pertama Kamis (6/2/2020), harga saham TPIA berada di kisaran Rp 8.675 per saham, maka bila dana rights issue yang dihimpun bisa mencapai lebih dari Rp 62 triliun.

Perusahaan dengan kode saham TPIA ini akan menggunakan seluruh dana hasil right issue untuk belanja modal dan meningkatkan kapasitas produksi perseroan atau entitas anak.

3.Hengkangnya Perusahaan Asuransi Aviva dari RI (Maret)

PT Astra International Tbk (ASII) merespons keputusan perusahaan asuransi asal Inggris, Aviva Plc mendivestasi seluruh kepemilikan sahamnya di PT Astra Aviva Life, perusahaan patungan Aviva dan Astra Life.

Kepala Divisi Komunikasi Korporat ASII Boy Kelana Soebroto, saat dihubungi menjelaskan, Astra terus meninjau strategi investasinya.

“Astra secara reguler meninjau kembali strategi investasi portofolio dan mengambil keputusan terbaik bagi para stakeholders,” kata Boy Kelana, Senin (9/3/2020).

Hengkangnya Aviva dari Astra Life dibenarkan Sarah Swailes, Group Financial and Corporate Communications. Dalam keterangan pers yang disampaikan,transaksi penjualan saham perusahaan kepada PT Astra International Tbk (ASII) ditargetkan akan rampung kuartal IV-2020.

4.Bangkok Bank Caplok Permata

Bangkok akhirnya resmi menuntaskan akuisisi atas 89,12% saham PT Bank Permata yang digenggam oleh Standard Chartered dan PT Astra International Tbk (ASII).

Transaksi akuisisi ini terjadi pada Rabu (20/5/2020) senilai Rp 33,28 triliun dengan dua kali transaksi di harga Rp 1.347 per saham. Broker-broker yang tercatat melakukan transaksi pertama antara lain Mandiri Sekuritas dengan CLSA Sekuritas Indonesia. Transaksi berikutnya difasilitasi oleh Mandiri Sekuritas dan UBS Sekuritas.

Sebelumnya, kabar mengenai rencana akuisisi ini berhembus kencang di kalangan pelaku pasar sejak akhir pekan. Pelaku pasar memperkirakan, harga pembelian BNLI akan terjadi di harga Rp 1.396 per saham, mengacu pada perubahan nilai buku menjadi 1,63 kali PBV (price to book value) berdasarkan Amendement Letter yang diteken Standchart dan Astra pada 20 April dari perjanjian awal pada 12 Desember 2019 sebesar 1,77 kali PBV.

5.Indofood CBP Mengakuisisi Pinehill

Emiten produsen mi instan Grup Indofood, PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mengumumkan rencana pembelian saham Pinehill Company Limited yang dimiliki oleh Pinehill Corpora senilai US$ 2,99 miliar atau setara Rp 41,67 triliun dengan asumsi kurs Rp 13.901 per dollar AS.

Terdapat ada dua transaksi yang akan dilakukan, pertama pembelian saham Pinehill Corpora, yaitu sebanyak 70.828.180 saham yang merupakan 51% dari total saham yang telah diterbitkan Pinehill Company dengan harga sebesar US$ 1,52 miliar.

Selanjutnya, pembelian seluruh saham Pinehill Company Limited yang dimiliki oleh Steele Lake, yaitu sebanyak 68.050.408 saham atau 49% dari total saham yang telah diterbitkan oleh Pinehill Company.

Nilai transaksi ini mencapai Rp US$ 1,46 miliar. Pinehill Corpora masih terafiliasi dengan ICBP karena merupakan konsorsium di mana Anthoni Salim memiliki penyertaan secara tidak langsung sekitar sebesar 49% saham Pinehill Corpora.

Rencananya, anak usaha Indofood ini akan membiayai akuisisi saham Pinehill dari dana hasil operasi usaha perseroan sebesar US$ 300 juta, sisanya dari dana pinjaman bank.

“Rencana akuisisi saham perusahaan target yang kegiatan usaha utamanya adalah produksi dan distribusi mi instan di negara-negara Afrika, Timur Tengah dan Eropa Tenggara adalah sejalan dengan pengembangan dan perluasa kegiatan usaha perseroan,” tulis manajemen ICBP, dalam prospektus yang disampaikan, Senin (8/6/2020).

Pinehill, saat ini tercatat memiliki pangsa pasar yang kuat di 8 negara di kawasan Afrika, Timur Tengah dan Eropa Tenggara dan memiliki sebanyak 12 fasilitas produksi mi instan di 8 negara dengan total populasi 550 juta penduduk dan memiliki jaringan ditribusi di 33 negara dengan kapasitas produksi 10 miliar bungkus mi instan.

6.Djony Bunarto Gantikan Prijono Sugiarto Jadi Dirut Astra

Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan PT Astra International Tbk (ASII) resmi menunjuk Djony Bunarto Tjondro sebagai direktur utama. Djoni menggantikan Prijono Sugiarto. Pri kemudian didapuk menjadi Komisaris Utama Astra.

“Dapat kami sampaikan sebagai berikut mengangjat bapak Djony Bunarto Tjondro sebaga Presiden Direktur. Prijono Sugiarto sebagai presiden komisaris,” kata Chief of Corporate Affairs Astra International Riza Deliansyah dalam konferensi pers, di Jakarta, Selasa (16/06/2020).

Kabar pensiunnya Pri sebetulnya sudah terendus sejak lama. Dari informasi yang diperoleh , Prijono Sugiarto, CEO Astra Internasional sebelumnya dikabarkan akan pensiun dari jabatannya tersebut setelah 10 tahun berada di pucuk pimpinan Astra. Nantinya, Prijono akan mengisi jabatan barunya sebagai Komisaris Utama Astra (Chairman).

Djony Bunarto Tjondro juga sebelumnya menjadi kandidat terkuat menggantikan posisi Prijono, yang menjabat orang nomor satu di Astra sejak 1 Maret 2010 dan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Perseroan sejak tahun 2001 sampai dengan 2010. Prediksi ini kemudian terbukti.

Djony adalah wakil presiden direktur berdasarkan hasil RUPST pada 25 April 2019 dan sebelumnya menjabat sebagai Direktur Perseroan dari 2015 sampai dengan 2019.

Bergabung dengan Astra sejak 1990, beberapa posisi strategis pernah diembannya, antara lain, Presiden Komisaris PT Toyota-Astra Motor, Komisaris PT Astra Agro Lestari Tbk, PT United Tractors Tbk, PT Astra Honda Motor dan PT Astra Sedaya Finance.

NEXT: Aksi Korporasi Semester II-2020