Heboh Obligasi AS, Begini Respons Sri Mulyani-Morgan Stanley

Menteri Keuangan Sri Mulyani di acara Rapat Koordinasi Nasional Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Bidang Properti 2019. (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta,  Indonesia – Kenaikan yield atau imbal hasil obligasi AS atau US Treasury khususnya tenor 10 tahun menjadi perhatian pelaku pasar. Bahkan sentimen ini masih membuat pasar saham dalam negeri tak mampu berbuat banyak seiring dengan keluarnya investor asing dalam sebulan terakhir perdagangan.

Data BEI mencatat, asing sudah keluar Rp 581 miliar dari pasar saham dalam negeri dalam sebulan terakhir hingga perdagangan Selasa (23/3/2021). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) juga ditutup ambles 0,77% di level 6.252 pada perdagangan Selasa dan sebulan terakhir minus 0,04%.

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati pun mencermati pergerakan yield US Treasury yang meningkat ini dalam beberapa waktu terakhir sehingga dinilai mempengaruhi pasar keuangan dalam negeri, meskipun dampaknya tidak terlalu besar.

Dari pasar obligasi, dampak pun terasa kendati tak signifikan. Menurut Sri Mulyani, yield Surat Berharga Negara (SBN) juga ada peningkatan sebesar 11%. Akan tetap bila dibandingkan dengan negara berkembang lainnya, peningkatan imbal hasil SBN Indonesia yang terjadi cukup rendah.

Baca:

Rupanya Ini Bikin Investor Cemas, IHSG Dibuat Tak Berkutik

“Kenaikan yang terjadi di yield SBN kita masih rendah dibandingkan banyak negara berkembang,” ungkap Sri Mulyani dalam konferensi pers APBN Kita, Selasa (23/3/2021).

Yield obligasi AS disebut mengalami kenaikan sampai dengan 85% menjadi 1,7%. Sementara itu obligasi dengan jenis yang sama di Brasil mengalami kenaikan yield 29%, Filipina naik 48%, dan Rusia naik 29%.

Meski demikian, Sri Mulyani tetap akan terus waspada melihat pergerakan ke depan di pasar keuangan. Bank Sentral AS the Fed pekan lalu baru memberikan kepastian kalau tidak akan menaikkan suku bunga acuan walaupun inflasi AS menyentuh 2%.

“Ini sesuatu yang perlu kita jaga,” tegasnya.

Kondisi pasar keuangan saat ini membuat aliran dana keluar dari Indonesia. Nilai tukar rupiah turut melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Sri Mulyani tidak bisa memastikan sampai kapan kondisi ini akan mereda.

“Maka ini perlu diwaspadai terutama tren dunia terkait policy adjustment yang diambil dan dampaknya terhadap perekonomian Indonesia,” ujarnya.

NEXT: Analisis Panin dan Morgan Stanley

Baca:

Bolak-balik di Zona Merah, Rupiah Malah Jadi Runner Up Asia