Ini Bocoran 10 Saham Pilihan Morgan Stanley! Ada BBRI-BBCA

The corporate logo of financial firm Morgan Stanley is pictured on the company's world headquarters in the Manhattan borough of New York City, January 20, 2015. REUTERS/Mike Segar

Jakarta, – Bank investasi yang bermarkas di New York, AS, Morgan Stanley menilai pasar saham Indonesia layak untuk kembali dilirik oleh investor global setelah sepanjang tahun ini terjadi jual bersih (net sell) dalam jumlah besar akibat pandemi Covid-19.

Peluang pulihnya pasar modal Tanah Air juga ditunjang dengan data perkembangan ekonomi dalam negeri dan dimulainya reformasi struktural.

Baca:

Mayoritas Asia ke Amerika di Zona Merah, IHSG Apa Kabarmu?

Dalam riset berjudul Reform Part II – Deregulation and Investment, Morgan Stanley menyebut aksi jual besar-besaran ini telah menyebabkan kepemilikan asing sudah turun secara signifikan dan saham-saham emiten papan atas di Bursa Efek Indonesia (BEI) dinilai telah berada di harga terendahnya.

Dengan demikian, pasar saham dalam negeri dinilai layak untuk kembali ‘diserok’.

Beberapa data yang dinilai menunjukkan perbaikan perekonomian dalam negeri yakni data konsumsi. Dipimpin oleh konsumsi semen dalam negeri yang mulai pulih dengan penurunan hanya 4% secara tahun ke tahun (year on year) pada Agustus 2020, dari sebelumnya ambles 11% secara yoy pada Juli 2020.

Baca:

Minuman Alkohol Mau Dilarang? Begini Gerak Saham Produsen Bir

Selain itu data penjualan mobil juga mulai meningkat pada Agustus lalu menjadi minus 69% yoy, dibanding minus 82% secara yoy pada Juli 2020.

Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) secara bertahap meningkat menjadi 83,4 pada September 2020 dari posisi terendah baru-baru ini di 77,8 pada Mei 2020.

Adapun Purchasing Managers Index (PMI) juga telah kembali ke posisi sebelum Covid-19, yakni ke 50,8 pada Agustus lalu dibanding dari posisi terendahnya 27,5 pada April 2020. Angka 50 ini mencerminkan Indonesia mulai mengalami ekspansi.

“Namun, PMI turun lagi menjadi 47,2 pada September 2020 sebagian sebagai tanggapan atas penerapan kembali langkah-langkah pembatasan sosial skala besar (PSBB) Jakarta, meskipun tidak terlalu ketat, pada pertengahan September,” tulis riset tersebut, dikutip Jumat (13/11/2020).

Pertimbangan lainnya adalah mulai stabilnya kredit investasi pada Agustus 2020 selama 2 bulan terakhir sebesar 5,2% yoy. Namun ini dinilai sudah berada pada titik terendahnya dan diperkirakan akan membalik pada kuartal keempat ini.

Selain dari data ekonomi, saham-saham di Indonesia saat ini dinilai relatif dibanding dengan saham-saham peers-nya di regional, terutama karena turunnya kepemilikan asing secara signifikan.

Net sell asing pada tahun ini telah membuat rasio harga saham terhadap laba atau price to earning ratio (PER) Indonesia terhadap pasar saham Asia ex Japan (AxJ) menjadi 25 dari rata-rata 10 tahun terakhir yang berada di 20%.

Dalam waktu yang sama di AxJ justru sudah lebih dulu naik, didorong oleh saham-saham perusahaan teknologi.

Baca:

Jreeng! 4 Kondisi Ini Bisa Bawa Emas Antam ke Rp 1,8 Juta

Pada 2 Oktober 2020, PER Indonesia adalah 14,9 kali, atau 0,4 SD (standar deviasi) di atas rata-rata 10 tahun, terutama karena perkiraan konsensus pendapatan yang diperkirakan tertekan pada 2020 dan 2021.

“Kami memperkirakan pertumbuhan EPS [earning per share] indeks MSCI Indonesia secara YoY di -14% untuk 2020 dan + 21% YoY untuk 2021, versus konsensus masing-masing di -29% dan 32%.”

“Meskipun diperkirakan ada pemulihan pada tahun 2021, estimasi dan konsensus EPS 2021 kami masing-masing sama dengan dan sedikit di bawah level 2019,” terang Morgan Stanley.

Adapun rasio harga terhadap nilai buku atau price to book value (PBV) pasar saham Indonesia turun menjadi 1,9x, atau -2,5 SD dari rata-rata 10 tahun, per 2 Oktober 2020. Diperkirakan ini adalah penilaian jangka panjang dari reformasi struktural yang sedang dilakukan.

Sampai September 2020 lalu, net sell mencapai US$ 4,1 miliar atau setara Rp 57 triliun (kurs Rp 14.000/US$), lebih tinggi dari net sell sepanjang 2019 yang mencapai US$ 1,1 miliar.

Sementara itu, jika dikombinasikan dengan jual bersih sejak 2017, maka net sell asing telah mencapai US$ 11,6 miliar atau Rp 162 triliun.

Angka tersebut dinilai sama dengan besarnya capital inflow sejak 2007.

Pada saat yang sama, saham asing di saham-saham utama Indonesia terus turun dari puncaknya pada tahun 2017.

Berikut 10 Saham Pilihan Morgan Stanley di Indonesia:

Morgan Stanley, 12 November 2020Foto: Morgan Stanley, 12 November 2020
Morgan Stanley, 12 November 2020
Baca:

Dapat Restu, Emiten Grup Sandiaga Siap Rilis Obligasi Rp 10 T

[Gambas:Video ]

(tas/tas)