Jenderal Myanmar Buka Suara soal Kekejaman Junta

Jakarta, – Kekejaman junta militer Myanmar kerap diberitakan media global. Bahkan kematian demi kematian warga terus mengisi headline.

Hal ini akhirnya membuat Jenderal militer Myanmar Min Aung Hlaing angkat bicara. Ia menyebut, pemerintah sudah menahan diri dalam penanganan pengunjuk rasa.

Pilihan Redaksi
  • Junta Militer Tangkap Aktor Top Myanmar, 120 Selebriti Diburu
  • Dikecam Dunia, Jenderal Junta Myanmar Akhirnya Buka Suara
  • Kudeta Myanmar dan Stabilitas Kawasan ASEAN

Ia pun menyebut aksi keras aparat dilakukan karena pendemo menghancurkan negara. Dalam pidatonya di televisi corong junta, Rabu (7/4/2021), ia menyebut gerakan “Pembangkangan Sipil (CDM)”, telah menyetop kegiatan ekonomi warga seperti pekerjaan rumah sakit, sekolah, jalan, kantor dan pabrik.

“CDM adalah kegiatan menghancurkan negara,” katanya dikutip dari Reuters, Jumat (9/4/2021).

Melansir AFP, ia pun mengatakan angka korban sebenarnya tak sebanyak yang dilaporkan. Data junta menyebut ada 248 pengunjuk rasa tewas, termasuk 16 petugas polisi.

Hal ini membantah laporan lembaga terkait tahanan politik AAPP. Lembaga itu menyebut 598 orang telah dibunuh sejak kudeta terjadi 1 Februari lalu, di mana 2.847 orang ditahan.

Sementara itu, dari laporan sejumlah media lokal, junta makin gencar menangkap mereka yang menolak pemerintahan militer. Bukan hanya aktivis, dokter, pemuka agama dan selebriti juga ditahan.

Terbaru, pemerintah bahkan mengeluarkan 120 daftar pesohor negeri yang buron. Salah satu aktor top Myanmar, Paing Takhon, juga digelandang aparat.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)