Jreng! Biden Telepon Raja Salman, Ada Apa?

FILE - In this Saturday, June 1, 2019 file photo, Saudi King Salman, center left, is accompanied by Kuwait's Emir Sheikh Sabah al-Ahmad al-Jaber al-Sabah, center right, as they enter the Islamic Summit of the Organization of Islamic Cooperation (OIC) in Mecca, Saudi Arabia. Kuwait state television said Tuesday, Sept. 29, 2020, the country's 91-year-old ruler, Sheikh Sabah Al Ahmad Al Sabah, had died. (AP Photo/Amr Nabil, File)

Jakarta, – Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden akan melakukan panggilan khusus ke Raja Arab Saudi Raja Salman. Komunikasi ini merupakan yang pertama antara kedua pemimpin negara, sejak Biden terpilih sebagai presiden negeri Paman Sam.

Menurut Gedung Putih, Biden akan berbicara soal keputusan pasca Donald Trump lengser. Berbeda dengan Trump, Biden tak akan menghubungi Putra Mahkota Pangeran Mohammed Bin Salman (MBS), yang disebut-sebut sebagai pemimpin de facto Arab Saudi.

Baca:

Heboh Trump Nyatakan ‘Perang’ Lagi, Kok Bisa?

“Mitra Presiden adalah Raja Salman,” kata Juru Bicara Jen Psaki, dikutip AFP, Rabu (17/2/2021).

“Kami telah menjelaskan sejak awal bahwa kami akan mengalibrasi ulang hubungan kami dengan Arab Saudi.”

Baca:

Bukan China Mr Xi Jinping, AS & Biden Lebih Disayang ASEAN

Sebelumnya, Mengutip International, pemerintah Biden membekukan sementara kesepakatan penjualan senjata dengan Arab Saudi. Menteri Luar Negeri Antony Blinken menyebut AS akan melakukan peninjauan lebih jauh.

“Untuk memastikan bahwa apa yang sedang dipertimbangkan adalah sesuatu yang memajukan tujuan strategis kami, dan memajukan kebijakan luar negeri kami,” kata Blinken dikutip Jumat (29/1/2021).

Sebelumnya Trump mendukung penjualan senjata ke Arab Saudi meskipun keberatan muncul dari Kongres AS. Parlemen menentang karena catatan buruk hak asasi manusia kerajaan kaya minyak tersebut.

Akhir Desember 2020, dilansir dari Reuters, Kementerian Luar Negeri Trump telah membuat kesepakatan US$ 290 miliar (Rp 4 triliun) dengan Arab Saudi. Secara rinci, salah satu jenis senjata yang dipesan adalah bom diameter kecil GBU-39/BI (SDB I), yang dikembangkan Boeing dan diproduksi satu dekade lalu.

Bukan hanya Arab, penghentian ini juga berlaku untuk Uni Emirat Arab (UEA). Trump menyetujui penjualan US$ 23 miliar jet tempur dan drone F-35 ke negeri ini sebagai ‘hadiah’ negara itu mau membuka hubungan diplomatik ke Israel 2020 lalu.

Halaman 2>>>