Junta Myanmar Panas, Pemerintah Bayangan Disebut Teroris

Soldiers walk towards anti-coup protesters during a demonstration in Yangon, Myanmar on Tuesday March 30, 2021. Thailand’s Prime Minister Prayuth Chan-ocha denied Tuesday that his country’s security forces have sent villagers back to Myanmar who fled from military airstrikes and said his government is ready to shelter anyone who is escaping fighting. (AP Photo)

Jakarta, –¬†Junta Myanmar mengumumkan bahwa pemerintah bayangan yang dibuat sekelompok anggota parlemen dari pemerintahan sipil yang digulingkan sebagai organisasi teroris.

Sebelumnya politisi pro pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi membentuk “Pemerintah Persatuan Nasional/ NUG” untuk melemahkan junta.

Baca:

Myanmar Perang Saudara! Pasukan Sipil Serang Junta, 16 Tewas

Pada Sabtu malam, televisi yang dikelola militer mengumumkan bahwa NUG dan tentaranya, pasukan pertahanan rakyat mendukung aksi terorisme.

“Kami meminta masyarakat untuk tidak … mendukung aksi teroris, memberikan bantuan aksi teror yang mengancam keamanan masyarakat dari CRPH, NUG, dan PDF,” kata siaran berita malam itu.

Pengumuman itu muncul saat ledakan bom muncul secara sporadis di banyak lokasi negeri itu, terutama di pusat komersial Yangon.

Sebelumnya junta juga mengumumkan bahwa NUG dan aliansinya Komite Mewakili Pyidaungsu Hluttaw (CRPH) adalah perkumpulan pelanggar hukum.

“Berinteraksi dengan mereka sama dengan pengkhianatan tingkat tinggi,” kata junta.

Kudeta Myanmar terjadi sejak 1 Februari 2021. Dari saat itu hingga kini, Myanmar dilanda krisis.

Pemimpin Junta Min Aung Hlaing memberi pembenaran kudeta itu dengan mengutip kecurangan dalam pemilihan November 2020, yang dimenangkan oleh partai NLD Suu Kyi.

Tetapi upaya rezim untuk menekan gerakan anti-junta yang berkembang hanya membawa pertumpahan darah, dengan pasukan keamanan telah menewaskan lebih dari 770 warga sipil, menurut kelompok pemantau lokal.

Ini juga menyimpulkan pertempuran meletus di banyak wilayah. Kemunculan milisi etnis dan tentara sipil di sejumlah tempat yang ingin melawan junta membuat penyerangan kerap terjadi.

Di 2020, Bank Dunia dan Bank Pembangunan Asia (ADB) memperkirakan Myanmar akan bangkit kembali dengan kuat di 2021. Ekonomi tumbuh sekitar 6% meski ada pandemi Covid-19.

Namun, harapan tumbuhnya ekonomi pupus tak lama setelah kudeta. Ramalan terbaru Bank Dunia mengungkapkan ekonomi Myanmar berada dalam “bahaya yang mengerikan”.

Ekonomi Burma diproyeksikan akan berkontraksi sebesar 10% tahun ini karena dampak dari pengambilalihan militer. Selama 80 hari setelah kudeta, tanda ekonomi terjun bebas semakin meluas.

Baca:

Duh! Gegara India, Asean Sumbang 47% Kasus Covid Dunia

[Gambas:Video ]

(sef/sef)