Kabar Terbaru, Terapi Plasma Disetujui untuk Obati Corona

Infografis, Plasma Darah jadi obat corona

Jakarta, – Amerika Serikat (AS) menyetujui penggunaan terapi plasma darah dari pasien yang pulih Covid-19 ke pasien yang terinfeksi corona. Badan POM AS, FDA, menegaskan telah mengeluarkan izin darurat.

Plasma pasien sembuh diyakini mengandung antibodi. Ini diharapkan bisa melawan dan membantu melindungi pasien agar tidak semakin parah.

Baca:

Nggak Kelar-kelar, Sepekan Lalu Ribuan Warga RI Kena Covid-19

“Manfaat yang diketahui dan potensial dari produk tersebut lebih besar daripada risiko yang diketahui dan potensial dari produk tersebut,” kata FDA dalam sebuah pernyataan dikutip dari AFP, Senin (24/8/2020).

Dalam laporan The Washington Post, persetujuan sudah diberikan ke 70.000 pasien. Sebelumnya FDA memang sudah mengizinkan metode ini namun hanya dalam kondisi tertentu.

Baca:

Guys! Ini Update Terbaru Vaksin Corona RI

Meski begitu, sejumlah dokter menekankan pembuktian lebih lanjut. Terutama soal efek samping dari terapi ini.

“Masih perlu dibuktikan dalam uji klinis,” kata spesialis paru di Lenox Hill Hospital di New York, Len Horovitz.

Ia membenarkan terapi ini mungkin akan berhasil. Tapi, menurutnya, terapi plasma darah tidak bisa dipakai untuk pengobatan penyelamatan ke pasien yang sudah sakit parah.

Saat ini sudah 23,5 juta orang terinfeksi corona. Dengan total kematian mencapai 812.056 dan sembuh 16.068.055.

Ada 213 negara terinfeksi. AS menjadi negara dengan kasus terburuk di mana ada 5,8 juta kasus dengan 180 ribu kematian.

Sebelumnya plasma darah diklaim berhasil menyembuhkan Flu Spanyol di tahun 1980. Metode ini juga dilakukan ke pasien Ebola, SARS, MERS-Cov dan H1N1.

Saat ini, terapi sudah dilakukan di AS, Iran, India dan Inggris. Namun ada sejumlah efek samping ke paru-paru dan menimbulkan reaksi alergi.

Reaksi lain akibat perbedaan golongan darah juga jadi hal lain. Sehingga perlu dengan sangat teliti memastikan plasma yang paling baik untuk pasien sakit.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)