Kalau IHSG dan Rupiah Melemah, Itu Gara-gara Jerome Powell

Jakarta, РPasar keuangan Indonesia ditutup variatif pada perdagangan kemarin. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah, tetapi nilai tukar rupiah dan harga obligasi pemerintah malah naik.

Kemarin, IHSG finis dengan koreksi -0,75%. IHSG tidak hanya melemah, tetapi menjadi indeks saham dengan pelemahan terdalam di Asia.



Baca:

Virus Corona Jilid-2 Bikin Mayoritas Bursa Asia Merah

Sementara nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menguat 0,2% di perdagangan pasar spot. Meski terbatas, apresiasi rupiah menjadi yang tertinggi di Benua Kuning.

Sedangkan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah seri acuan tenor 10 tahun turun cukup dalam yaitu 10,3 basis poin (bps). Penurunan yield menandakan harga instrumen ini sedang naik karena tingginya permintaan. Koreksi yield juga terjadi di hampir seluruh tenor.

Baca:

Rupiah di Rp 14.900/US$ Tahun Depan? No Problemo!

Rupiah dan pasar obligasi diuntungkan oleh santernya isu kemungkinan suku bunga negatif di AS. Pelaku pasar semakin berani bertaruh bahwa bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) cepat atau lambat akan menurunkan suku bunga acuan ke teritori negatif. Saat ini Federal Funds Rate sudah mendekati 0%, tepatnya 0-0,25% atau median 0,125%.

Data Bank of America Securities menyebutkan bahwa ada peluang 23% suku bunga acuan AS bisa di bawah 0% pada akhir tahun ini. Pekan lalu, peluangnya masih 10%.

Wacana suku bunga negatif lebih kencang berembus setelah datang data ekonomi terbaru. Pada April, AS mencatat deflasi -0,8% secara bulanan (month-on-month/MoM). Ini adalah catatan terendah sejak Desember 2008.

Inflasi rendah, bahkan sampai deflasi, menunjukkan bahwa ada ruang bagi kebijakan moneter yang lebih akomodatif untuk mendorong permintaan.

Baca:

Suku Bunga AS Bisa Minus, Serius?

Oleh karena itu, isu suku bunga minus menjadi semakin santer. Akibatnya, dolar AS (dan aset-aset berbasis mata uang ini, terutama instrumen berpendapatan tetap seperti obligasi) menjadi tertekan. Dollar Index (yang mengukur posisi greenback terhadap enam mata uang utama dunia) terkoreksi -0,3%.

Namun keuntungan itu tidak dinikmati oleh saham, yang berstatus aset berisiko. Risk appetite investor sedang rendah karena ada kekhawatiran gelombang serangan kedua virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19).

Ini terjadi setelah sejumlah negara telah dan berencana mengendurkan kebijakan pembatasan sosial (social distancing) karena penyebaran virus yang bermula dari Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China itu menunjukkan gejala perlambatan. Namun ternyata perlambatan itu masih sangat dini, karena kemudian malah terjadi kenaikan jumlah pasien baru kala keran aktivitas masyarakat kembali dibuka.

Apabila gelombang kedua serangan virus corona benar-benar terjadi (amit-amit), maka jalan perekonomian global menuju pemulihan menjadi semakin berat. Sulit berharap hidup kembali normal seperti dulu ketika ada virus mematikan yang terus membayangi.

Oleh karena itu, investor memilih ogah bermain agresif sampai ada kejelasan bahwa penyebaran virus corona betul-betul melambat. Ini yang membuat investor menjauhi pasar saham, tidak terkecuali di Indonesia.

[Gambas:Video ]