Konsensus: BI Diramal Turunkan Bunga Acuan ke 4,25%

Jakarta, РBank Indonesia (BI) diperkirakan bakal menurunkan suku bunga acuan dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) bulan ini. Rupiah yang stabil bahkan cenderung menguat, inflasi yang seadanya (bahkan kemungkinan terjadi deflasi bulan ini), dan kebutuhan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi membuat MH Thamrin akan punya alasan kuat untuk menurunkan BI 7 Day Reverse Repo Rate.

RDG BI edisi Mei 2020 akan berlangsung mulai hari ini sampai besok. Konsensus pasar yang dihimpun menghasilkan median 4,25% untuk suku bunga acuan. Artinya, BI 7 Day Reverse Repo Rate dikurangi 25 basis poin (bps) dari posisi saat ini yang sebesar 4,5%.

Institusi

BI 7 Day Reverse Repo Rate (%)

CIMB Niaga

4.25

Bank Danamon

4.5

Maybank Indonesia

4.25

BCA

4.5

Bank Permata

4.25

ING

4.25

Danareksa Research Institute

4.5

BNI Sekuritas

4.5

Citi

4.25

Bahana Sekuritas

4.25

Barclays

4.25

BTN

4.5

MEDIAN

4.25

Dari sisi yang memperkirakan suku bunga acuan bertahan di 4,5%, Kepala Ekonom PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) Winang Budoyo mengatakan BI baru memberlakukan penurunan Giro Wajib Minimum (GWM) pada 1 Mei lalu. Ada baiknya melihat dulu seberapa efektif kebijakan ini sebelum menurunkan suku bunga acuan.




Dalam RDG bulan lalu, Gubernur BI Perry Warijyo mengumumkan penurunan GWM sebesar 200 bps untuk bank umum konvensional dan 50 bps untuk bank umum syariah yang berlaku mulai 1 Mei 2020. Kebijakan ini diperkirakan dapat menambah likuiditas perbankan hingga Rp 102 triliun.

Baca:

Catat! Bank Indonesia Sudah ‘Cetak Uang’ Rp 500 T Lebih

Kemungkinan BI tetap mempertahankan suku bunga acuan juga terbuka. Dalam briefing Perkembangan Ekonomi Terkini 29 April lalu, Gubernur Perry menyebut bahwa adalah stimulus fiskal yang dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat, bukan pelonggaran moneter.

Perry menyatakan bahwa BI telah melakukan pelonggaran berbasis kuantitas (quantitative easing/QE) senilai lebih dari Rp 500 triliun. Namun pelonggaran itu pada dasarnya dinikmati oleh perbankan, belum bisa dipastikan mendorong sektor riil. Agar sektor riil bergeliat sehingga menggairahkan sektor perbankan, dibutuhkan peran stimulus fiskal.

“BI tidak bisa langsung ke sektor riil, di sinilah perlu stimulus fiskal. Semakin cepat stimulus fiskal, maka dampak quantitative easing BI akan semakin meningkatkan kegiatan ekonomi,” tegas Perry kala itu.

[Gambas:Video ]