Korea Ngamuk ke Iran, Tanker Disita Kirim Kapal Perang

A South Korea's government ship for a fishery guidance, is seen near Yeonpyeong island, South Korea, Thursday, Sept. 24, 2020. According to Seoul, a man disappeared from the government ship that was checking on potential unauthorized fishing in an area south of the boundary on Monday, a day before he was found in North Korean waters. (Choi Jin-suk/Newsis via AP)

Jakarta, – Hubungan Korea Selatan (Korsel) dan Iran memanas. Ini terjadi pasca Iran menyita sebuah kapal tanker kimia berbendera Korsel, Senin (4/1/2021).

Kapal tersebut ditangkap di Selat Hormus, saat berlayar dari Arab Saudi ke Uni Emirat Arab (UEA). Media Iran mengatakan bahwa tentara Pengawal Revolusi langsung mengamankan kapal tanker bernama Hankuk Chemi tersebut karena menyebabkan polusi minyak.

Baca:

Ada Apa Nih? WHO Kecewa ke China soal Asal Usul Corona

Kapal itu sendiri membawa 7.200 ton etanol. Ada 20 awak kapal meliputi lima orang Korea, 11 orang Myanmar, dua orang Indonesia dan dua orang Vietnam.

Hal ini membuat Korsel bertindak. Kapal perang anti pembajak dari militernya, Cheonghae, dikirim ke lokasi tersebut.

Cheonghae sebelumnya berada di Teluk Aden sejak tahun 2009. Namun kemudian antara 2019 dan 2020 dipindah ke Selat Hormuz setelah rentetan serangan pada kapalnya di area pesisir Iran.

Unit Cheonghae 302 mengoperasikan sebuah kapal penghancur berbobot 4.500 ton, satu buah helikopter anti kapal selam dan tiga kapal cepat.Bersama kapal tersebut, Iran juga mengirim unit helikopternya.

Sementara itu, operator kapal yakni DM Shipping membantah tuduhan mencemari perairan. “(Kapten kapal) menanyakan kenapa kami harus pergi dan diperiksa dan tidak mendapat jawaban,” kata operator dalam sebuah pernyataan dikutip Rabu (6/1/2021).

Kementerian Pertahanan Korsel mengatakan akan menangani penyitaan ini dan bekerja sama, termasuk dengan angkatan laut multinasional yang beroperasi di perairan terdekat. AS sudah berkomentar dan meminta Iran melepaskan kapal Korsel.

Insiden ini terjadi di tengah ketegangan yang makin meningkat antara Iran dan AS. Ini akibat dimulainya pengayaan uranium hingga 20% di fasilitas bawah tanah Iran, yang menandai peringatan setahun kematian seorang jenderal Qasim Soleimani yang dirudal AS di Irak awal 2020..

Dana Rp 97 Ribu T

Penyitaan ini membuat Korsel juga membatalkan rencana kedatangan Wakil Menteri Luar Negeri Choi Jong-kun ke Teheran. Ia dijadwalkan akan mengunjungi ibu kota Iran 10 Januari 2021.

Padahal Choi datang untuk membahas permintaan Iran agar dana milik Teheran di bank-bank Korsel senilai US$ 7 miliar (Rp 97 ribu triliun) dicairkan. Dana tersebut saat ini dibekukan karena Iran terkena sanksi AS.

Rencana itu (kedatangan Choi) untuk saat ini tidak jelas,” kata seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korsel pada Reuters.

Mengutip Tehran Times, Iran berharap ada kesepakatan. Pasalnya dana akan digunakan untuk pembelian dosis vaksin virus corona (Covid-19) dan komoditas lain.

(sef/sef)