Lagi dan Lagi, Emiten Migas Grup Bakrie Rights Issue Rp 1 T

Direktur EMP Mining Overseas Pte. Ltd., Adinda Bakrie (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, – Perusahaan jasa pertambangan migas milik Grup Bakrie, PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) berencana menerbitkan saham baru dengan memberikan Hak Memesan Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue, untuk kesekian kalinya.

Dalam prospektus ringkas yang disampaikan 23 Oktober 2020 di Bursa Efek Indonesia (BEI), manajemen ENRG menyatakan perseroan akan menerbitkan sebanyak-banyaknya 20 miliar saham baru dengan nilai nominal Rp 100/saham, yang merupakan saham Seri B.

Perseroan belum memberikan detail terkait dengan jadwal dan harga pelaksanaan rights issue ini.

Namun dengan mengacu pada harga rata-rata saham ENRG pada perdagangan pekan lalu Rp 51/saham, maka nilai rights issue ini berpotensi bisa mencapai Rp 1,02 triliun.

Saham baru tersebut akan diterbitkan dari saham portepel perseroan dan dicatatkan di BEI. Perseroan akan meminta persetujuan dari para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) yang akan digelar pada Senin 30 November 2020.

Baca:

Pandemi Masih Ngeri, Minyak Mentah Merosot 2% Lebih

“Rencana penambahan modal dengan memberikan HMETD ini akan memperbaiki struktur permodalan perusahaan menjadi lebih sehat, dalam meningkatkan kemampuan perseroan untuk mengembangkan usaha dan meningkatkan nilai bagi pemegang saham melalui pertumbuhan usaha yang dapat dicapai oleh perseroan,” tulis manajemen ENRG, dikutip Senin (26/10/2020).

Rencana penambahan modal dengan HMETD ini akan berpengaruh terhadap pemegang saham, di mana para pemegang saham yang tidak melaksanakan haknya untuk membeli saham baru akan terdilusi hingga sebanyak-banyaknya 65,91%.

Lapkeu ENRG Juni 2020Pemegang Saham ENRG per Juni 2020

Dana hasil HMETD ini akan digunakan untuk ekspansi usaha melalui investasi langsung maupun tidak langsung. Dana juga akan digunakan untuk membayar utang terhadap kreditur dan juga untuk modal kerja.

“Rincian mengenai penggunaan dana akan disesuaikan dengan kondisi pada saat HMETD diterbitkan dengan mempertimbangkan pengelolaan modal yang optimal untuk kepentingan perusahaan.”

“Manajemen berhak untuk melakukan penyesuaian terhadap penggunaan dana dengan mempertimbangkan keadaan dan faktor-faktor lain yang dianggap layak,” tulis prospektus ENRG.

ENRG pertama kali masuk bursa pada 7 Juni 2004, melalui mekanisme penerbitan saham perdana (initial public offering/IPO).

Baca:

Bahana: Merger Bank Syariah BUMN, BRIS Tidak Rights Issue!

ENRG pertama kali menerbitkan saham baru atau rights issue pada 2005, setahun setelah IPO.

Berdasarkan persetujuan pemegang saham dalam RUPSLB 22 Desember 2005, perusahaan melakukan penawaran umum terbatas (PUT I) dengan HMETD sebanyak 4.909.368.195 saham dengan nilai nominal Rp 100 per saham, yang ditawarkan dengan harga Rp 770 per saham sehingga seluruhnya berjumlah Rp 3,78 triliun.

Setelah itu, sesuai RUPSLB 31 Desember 2009, perusahaan melakukan PUT II dengan HMETD sebanyak 26.183.297.040 saham dengan nilai nominal Rp100 per saham yang saham tersebut ditawarkan dengan harga Rp 185 per saham sehingga seluruhnya berjumlah Rp 4,84 triliun.

Kemudian, sesuai RUPSLB 10 Januari 2018, perusahaan menerbitkan saham baru sebanyak 4.203.831.300 saham melalui PMT-HMETD (tanpa HMETD/private placement) dengan nilai nominal Rp100 per saham.

Penambahan modal disetor tersebut telah mendapat persetujuan dari BEI untuk dicatat pada 30 Januari 2018.

Hingga semester I-2020, ENRG mencatatkan laba bersih sebesar US$ 27,34 juta atau setara dengan Rp 405 miliar (kurs Rp 14.800/US$).

Jumlah tersebut naik 3% dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 26,62 juta atau sekitar Rp 394 miliar.

Berdasarkan data laporan keuangan yang dipublikasikan, pendapatan perusahaan yang dipimpin oleh Syailendra Surmansyah Bakrie ini naik 28% menjadi US$ 148,93 juta atau setara dengan Rp 2,20 triliun.

Pendapatan tersebut naik dari periode yang sama tahun lalu sebesar US$ 116,35 juta.

Adapun EBITDA (laba sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi) naik 59% menjadi US$ 96,33 juta, dari sebelumnya US$ 60,70 juta.

Sementara laba operasional juga naik menjadi US$ 61,86 juta, dari sebelumnya US$ 42,23 juta.

“Kami cukup beruntung karena lebih dari 90% dari jumlah produksi dan cadangan kami adalah gas,” kata Syailendra S Bakrie, Dirut EMP, dalam siaran persnya.

“Dalam beberapa tahun terakhir, harga jual gas terlihat lebih konsisten dari harga jual minyak yang lebih berfluktuasi,” kata putra Indra Bakrie ini.

Dalam kesempatan yang sama, Adinda Bakrie, Chief Communication EMP, juga mengatakan perseroan akan terus berupaya untuk meningkatkan produksi migas dari portofolio aset-aset yang ada saat ini.

“Pada saat yang bersamaan kami juga mengkaji kemungkinan untuk mengakuisisi aset baru di masa depan,” tegas putri bungsu Indra Bakrie ini.

Baca:

Benny Tjokro 2 Kali Sebut Nama Bakrie Terlibat, Ini Alasannya

Direktur Keuangan EMP Edoardus Windoe, menjelaskan perbaikan kinerja keuangan perusahaan ditopang oleh kenaikan produksi migas.

“Blok Malacca Strait, Riau, Sumatera, adalah produsen minyak utama kami dan Blok Bentu, Riau, Sumatera, dan Blok Kangean, Jawa Timur, adalah penyumbang terbesar produksi gas kami,” jelasnya.

EMP adalah perusahaan migas yang saat ini mengoperasikan 8 blok migas metana batu bara di Indonesia dan Mozambik (Afrika).

Di semester I-2020, perseroan memproduksi sekitar 2.556 barel minyak per hari dan 172 juta kaki kubik gas per hari. EMP saat ini mengoperasikan 18,68 juta barel minyak dan 788 miliar kaki kubik gas dalam cadangan terbukti , terukur, dan terkiranya.

[Gambas:Video ]

(tas/tas)