Mata Uang Asia Kompak ‘Hajar’ Dolar AS, Rupiah Cuma Nonton

FILE PHOTO: South Korean 10,000 won note is seen on U.S. 100 dollar notes in this picture illustration taken in Seoul, South Korea, December 15, 2015. REUTERS/Kim Hong-Ji/File Photo

Jakarta, – Mayoritas mata uang utama Asia menguat melawan dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Kamis kemarin (29/10/2020).

Rupiah lagi-lagi tidak ikut berlaga, sebab pasar keuangan dalam negeri masih libur hingga Jumat ini (30/10), dalam rangka perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW yang jatuh kemarin, dan Jumat ini adalah cuti bersama.

Melansir data Refinitiv, hingga pukul 15:16 WIB Kamis kemarin, yuan China memimpin penguatan melawan dolar AS sebesar 0,34%. Sedangkan yang melemah adalah yen Jepang dengan dolar Hong Kong.

Berikut pergerakan dolar AS melawan mata uang utama Asia.

Dolar AS sedang dalam mode defensif, sebab pada Kamis malam waktu Indonesia dirilis data produk domestik bruto (PDB) AS yang diprediksi tumbuh hingga 31,9%.

Artinya Negeri Paman Sam akan lepas dari resesi setelah 2 kuartal sebelumnya PDB berkontraksi 31,4% dan 5%.

Kemudian pekan depan akan ada pemilihan presiden (pilpres) AS pada 3 November waktu setempat, yang masih memberikan ketidakpastian di pasar.

Namun, pasar AS kali ini sedang “kritis” akibat lonjakan kasus virus corona (Covid-19) yang kembali terjadi di beberapa negara bagian.

Angka infeksi baru virus corona telah melampaui rekor dengan mencatatkan pertumbuhan rata-rata sebesar 71.832 dalam sepekan terakhir. Di sisi lain, mereka yang menginap di rumah sakit naik 5% di 36 negara bagian, menurut data Covid Tracking Project.

Kenaikan ini mendorong beberapa negara memberlakukan kembali karantina wilayah (lockdown). Illinois, misalnya, telah memerintahkan Chicago melarang makan di tempat di dalam restoran.

“Ketakpastian seputar pembatasan pergerakan terkait Covid-19 dan politik AS berarti kita seharusnya mengantisipasi volatilitas masih akan tinggi hingga akhir tahun,” tutur Mark Haefele, Kepala Investasi UBS, dalam laporan riset, yang dikutip International.

Sementara itu, rupiah seandainya berlaga pada Kamis kemarin, juga ada kemungkinan kembali melemah.

Hal ini terlihat dari pergerakan kurs rupiah di pasar non-deliverable forward (NDF) yang kembali melemah hingga sore kemarin dibandingkan dengan beberapa saat sebelum perdagangan kurs NDF Rabu.

Periode

Kurs Rabu (28/10/2020) Pukul 15:50 WIB

Kurs Kamis (29/10/2020) Pukul 15:40 WIB

1 Pekan

Rp14.657,8

Rp14.731,8

1 Bulan

Rp14.700,0

Rp14.779,9

2 Bulan

Rp14.749,0

Rp14.831,5

3 Bulan

Rp14.795,0

Rp14.868,3

6 Bulan

Rp14.925,0

Rp15.050,0

9 Bulan

Rp15.088,0

Rp15.182,4

1 Tahun

Rp15.275,0

Rp15.392,5

2 Tahun

Rp16.016,0

Rp16.091,0

NDF adalah instrumen yang memperdagangkan mata uang dalam jangka waktu tertentu dengan patokan kurs tertentu pula.

Sebelumnya pasar NDF belum ada di Indonesia, hanya tersedia di pusat-pusat keuangan internasional seperti Singapura, Hong Kong, New York, atau London.

Baca:

Warren Buffett RI Ngaku Lebih Kaya dari 99% Lulusan Harvard!

Pasar NDF seringkali mempengaruhi psikologis pembentukan harga di pasar spot. Oleh karena itu, kurs di NDF tidak jarang diikuti oleh pasar spot.

Maklum saja rupiah melemah, dalam 2 hari terakhir, rupiah mampu menguat masing-masing 0,14% dan 0,07%.

Dengan pasar dalam negeri yang libur hingga Jumat ini, artinya rupiah sekali lagi sukses mencatat penguatan 5 pekan beruntun.

Reli yang cukup panjang tetapi tidak begitu terlihat sebab penguatan rupiah tipis-tipis saja. Total, selama 5 pekan tersebut rupiah membukukan penguatan 1,52%, dengan penguatan terbesar terjadi di pekan yang berakhir 9 Oktober, sebesar 1,05%.

Memang penguatannya tidak besar jika melihat reli yang cukup panjang. Tetapi bisa menunjukkan stabilitas rupiah yang bagus, untuk mengarungi pasar dengan “ombak” besar pekan depan.

TIM RISET

Baca:

Akibat Covid-19, Laba Bersih Credit Suisse Ambles 38%

[Gambas:Video ]

(chd/chd)