Naik Lima Hari Beruntun, Harga Minyak Melejit 20%

Naik Lima Hari Beruntun, Harga Minyak Melejit 20%

Jakarta, – Harga minyak melonjak mencapai lebih dari 20% pada hari Selasa (5/5/2020). Kenaikan harga dipengaruhi oleh upaya pengurangan produksi yang sedang berlangsung dan pemulihan permintaan karena semakin banyak negara yang melonggarkan aturan penguncian (lockdown) untuk membendung penyebaran wabah virus corona (COVID-19).

Harga minyak patokan Amerika Serikat (AS) West Texas Intermediate (WTI) melonjak 20,45% atau US$ 4,17 menjadi US$ 24,56 per barel. Sementara kontrak naik 3,08% pada hari Senin dan ditutup di atas US$ 20, untuk pertama kalinya sejak pertengahan April. Ini juga merupakan kenaikan hari kelima berturut-turutnya, kenaikan beruntun harian terlama sejak Juli.

Di sisi lain, harga patokan internasional, minyak mentah Brent ditutup naik 13,86% menjadi US$ 30,97 per barel. Ini juga merupakan kenaikan kelima berturut-turutnya.




“Satu hal yang jelas, permintaan turun sudah lewat, dan ini bermanifestasi dalam harga minyak yang sedang naik,” kata Per Magnus Nysveen, kepala analisis Rystad Energy. “Alasan utama di balik penguatan harga adalah data lalu lintas regional, yang menunjukkan permintaan terendah ada di belakang kita,” tambahnya, mengutip  International.

Baca:

ESDM Klaim Harga BBM RI Tergolong Murah di ASEAN

Sebelumnya dalam beberapa waktu terakhir, permintaan minyak telah merosot tajam akibat merebaknya pandemi virus corona di seluruh dunia. Pandemi ini telah memaksa miliaran orang untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan tidak bepergian, membuat perjalanan udara terhenti.

Beberapa pihak memproyeksikan penurunan permintaan akibat hal itu pada bulan April mencapai sepertiga dari permintaan di seluruh dunia. Namun demikian, sekarang banyak ekonomi negara yang mulai kembali menggeliat dan investor percaya akan ada kenaikan dalam permintaan.

“Pembukaan kembali ekonomi telah menyuntikkan kembali tingkat optimisme yang hati-hati ke pasar minyak yang anjlok ke posisi terendah bersejarah beberapa minggu yang lalu,” kata analis RBC Michael Tran dalam sebuah catatan kepada klien, Selasa.

“Ada alasan untuk percaya bahwa penurunan permintaan terburuk sudah kita lewati. Komentar dari beberapa perusahaan menunjukkan peningkatan permintaan di AS pada akhir April, khususnya untuk bensin,” tambah Stacey Morris, direktur penelitian di Alerian.

Selain permintaan yang mulai meningkat, dorongan untuk harga minyak juga datang dari langkah pengurangan produksi yang dilakukan produsen-produsen minyak terbesar di dunia. Sebagaimana diketahui, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu penghasil minyaknya sudah mulai mengurangi produksi hingga 9,7 juta barel per hari (bph) sejak 1 Mei. Bahkan, Norwegia dan Kanada juga telah membatasi produksi.

Di AS, berbagai perusahaan minyak besar seperti Exxon, Chevron dan ConocoPhillips juga telah mulai membatasi produksi. Menurut Administrasi Informasi Energi, produksi mingguan AS rata-rata 12,1 juta bph untuk minggu yang berakhir 24 April. Jumlah itu sekitar 1 juta bph di bawah level tertinggi sepanjang masa sejak Maret.

Baca:

Saatnya Sektor Migas Panaskan Mesin Bursa

Kabar kenaikan harga minyak ini langsung mendapat perhatian Presiden AS Donald Trump. “Harga minyak bergerak naik dengan baik ketika permintaan dimulai lagi!” tulis Trump di twitternya pada Selasa pagi.

Trump juga telah memuji langkah-langkah yang diambil oleh berbagai negara untuk membuka kembali ekonomi mereka, menurut Reuters.

Beberapa negara yang telah mulai mengangkat atau melonggarkan aturan lockdown di antaranya yaitu Italia, Spanyol, Nigeria dan India, serta beberapa negara bagian AS termasuk Ohio.

Upaya membuka kembali ekonomi itu dilakukan di saat kasus baru COVID-19 mulai menunjukkan penurunan di beberapa wilayah meski angka infeksinya masih tinggi secara global. Menurut Wolrdometers, ada 3.723.745 orang yang terinfeksi corona di dunia per Rabu pagi pukul 07:00 WIB. Dari total itu 257.975 orang meninggal dan 1.239.375 orang sembuh.

(res)