Peringatan Baru Ilmuwan Soal Mutan Corona Inggris

Health workers guide drivers to shots of China's Sinovac CoronaVac vaccine during a priority COVID-19 vaccination program for the elderly at a drive-thru set up in the Pacaembu soccer stadium parking lot in Sao Paulo, Brazil, Monday, Feb. 8, 2021. (AP Photo/Andre Penner)

Jakarta, – Ilmuwan di Inggris memperingatkan mutasi virus corona baru dapat merusak perlindungan yang muncul dari vaksin yang beredar kini.

Sharon Peacock, direktur lembaga kesehatan masyarakat Covid-19 Genomics UK Consortium (COG-UK), mengatakan sejauh ini vaksin memang efektif melawan varian corona baru di Inggris, tetapi mutasi itu berpotensi merusak efek vaksin yang muncul.

Baca:

Gejala Ringan Covid, Bocah 9 Tahun Ini Meninggal saat Tidur

“Yang mengkhawatirkan tentang ini corona varian 1.1.7, yang telah kami perhatikan selama beberapa minggu dan bulan, mulai bermutasi kembali. Mutasi baru ini dapat mempengaruhi cara kami menangani virus dalam hal kekebalan dan efektivitas vaksin,” kata Peacock, dikutip dari Reuters, Jumat (12/2/2021).

“Ini mengkhawatirkan bahwa varian 1.1.7, yang lebih mudah menular, yang telah melanda Inggris, kini bermutasi sehingga memiliki mutasi baru yang dapat mengancam vaksinasi.”

Baca:

Studi CDC AS: Masker Dobel Lebih Efektif Cegah Corona

Mutasi corona baru yang pertama kali diidentifikasi di Bristol di Inggris barat daya, kini ditetapkan sebagai varian corona yang mengkhawatirkan oleh Grup Penasihat Ancaman Virus Pernafasan Baru dan Berkembang.

Sementara kepala penasihat ilmiah Inggris, Patrick Vallance, mengatakan varian corona di Bristol memiliki salah satu mutasi yang sama dengan Afrika Selatan.

“Tidak mengherankan hal itu telah terjadi dan akan terjadi di tempat lain juga,” ujar Vallance. “Dalam mendapatkan varian itu membuatnya sedikit lebih mungkin untuk terlihat berbeda dengan sistem kekebalan sehingga kita perlu mewaspadai, mengukurnya, mengatasinya dan perlu terus menguji efek vaksin dalam situasi ini.”

Sejauh ini terdapat 21 kasus varian yang mengalami mutasi E484K, yang terjadi pada protein spike virus, perubahan yang sama seperti yang terlihat pada varian Afrika Selatan dan Brasil.

Kini ada tiga varian mutasi utama yang mengkhawatirkan para ilmuwan, yakni varian Afrika Selatan, yang oleh para ilmuwan dikenal sebagai 20I / 501Y.V2 atau B.1.351; varian Inggris yang dikenal sebagai 20I / 501Y.V1 atau B.1.1.7; serta varian Brasil yang dikenal sebagai P.1.

Inggris kini tercatat memiliki 3.998.655 kasus infeksi positif, dengan 115.529 kematian, dan 2.056.261 pasien berhasil sembuh menurut data Worldometers per Jumat.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)