Polemik Royalti Musik, Pengusaha: Kita Nggak Putar, So What?

Suasana sepi dan sejumlah kios tutup  di pusat perbelanjaan Poins Square Lebak Bulus, Jakarta Selatan, Kamis (18/2/2021). (CNBC Indonesia/Andrean Kristianto)

Jakarta, – Kalangan pengusaha ritel mempertanyakan aturan royalti penyetelan musik yang justru keluar di masa pandemi Covid-19. Ketua Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) Roy Mandey menilai saat ini bukanlah waktu yang tepat, pasalnya banyak ritel yang tutup akibat tidak kuat menanggung beban operasional. Bisa saja pengusaha ritel lebih memilih untuk tidak memutar lagu-lagu yang terkena aturan royalti.

“Kita nggak akan pasang lagu, musik, kita pasang lagu non-royalti yang dari YouTube dan sebagainya. Akhirnya pencipta lagi nggak bisa mempopulerkan lagunya. Kalau kita nggak putar lagunya so what? Kita punya hak,” tegas Roy kepada , dikutip Jumat (9/4/21).

Baca:

Ini Alasan Pengusaha Tak Sudi Kena Royalti Lagu di Toko-Mal

Roy mengaku anggotanya siap mengikuti aturan ketika tarif royalti sesuai dan momentumnya tepat. Namun pada masa pandemi, saat ini sudah banyak toko ritel yang tidak kuat menahan biaya operasional. Karenanya, tidak sedikit yang akhirnya tutup, misalnya seperti Giant, Ramayana dan toko-toko ritel besar lainnya. Bisa beroperasi saja sudah bagus.

“Kalau tarifnya bisa diterima oke-oke aja, tapi kalau tarifnya nggak bisa diterima karena ketinggian atau memberatkan, gimana kita mau operasi buka toko? Yang ada makin banyak yang menutup. Ujung-ujungnya PHK. PPN, PPh, PAD daerah hilang, ujung-ujungnya Investasi dicabut, UMKM yang biasa taruh di toko tersebut nanti nggak bisa perdagangkan, kan multiplier effect,” paparnya.

Baca:

Jokowi Teken Aturan Royalti Lagu, Pengusaha Angkat Tangan!

Halaman Selanjutnya –> Perlu Dialog Lebih Lanjut