Prancis ‘Darurat’! Teror Pembunuhan di Nice, 3 Orang Tewas

French policemen stand next to Notre Dame church after a knife attack, in Nice, France, Thursday, Oct. 29, 2020. French anti-terrorism prosecutors are investigating a knife attack at a church in the Mediterranean city of Nice that killed two people and injured several others. (AP Photo/Alexis Gilli)

Jakarta, – Prancis kini dalam keadaan darurat. Penyerangan berujung pembunuhan terjadi pascakontroversi kartun nabi dan penghinaan Presiden Prancis Emmanuel Macron ke Islam.

Seorang pria persenjata pisau, yang diidentifikasi sebagai migran asal Tunisia berusia 21 tahun, melakukan penyerangan ke sebuah gereja di kota Nice, Kamis (29/10/2020). Ia membunuh tiga orang di sana dengan cara memenggal kepala korban.

Pilihan Redaksi
  • Teror Penusukan di Nice Prancis, Satu Orang Tewas Dipenggal!
  • Pemerintah Erdogan Kutuk Teror di Prancis
  • Dewan Uskup: Umat Katolik Menolak Takluk pada Rasa Takut!

AFP menulis dua orang mengalami luka sayatan di leher. Mereka masing-masing, wanita 60 tahun dan pria 55 tahun. Sedangkan satu wanita berumur 44 tahun meninggal di restoran dekat gereja karena beberapa luka tusuk.

Polisi kemudian melakukan penembakkan dan melukai pelaku. Jaksa anti teror Prancis Francois Picard mengatakan kejadian berlangsung setengah jam.

Ia mengatakan pelaku membawa Al-quran, tiga pisau dan berteriak ‘Allahu Akbar’. Belakangan diketahui seorang saksi telah berhasil membunyikan alarm dengan sistem perlindungan khusus yang dipasang oleh pemerintah kota.

“Serangan itu, tambahnya, adalah pengingat bahwa ideologi mematikan dari terorisme Islam masih sangat hidup,” katanya. Pelaku sendiri datang ke Paris 9 Oktober setelah transit di Itali 20 September.

Sementara itu, Menteri Dalam Negeri Prancis Gérald Darmanin mengimbau masyarakat untuk menghindari kawasan di pusat kota French Riviera. Ia mengatakan akan mengadakan pertemuan membahas krisis ini di Paris.

Presiden Emmanuel Macron mengunjungi tempat kejadian pada Kamis malam. Ia mengumumkan peningkatan pengawasan gereja dengan menerjunkan patroli militer Sentinelle Prancis, dari 3.000 personil menjadi 7.000 tentara.

“Keamanan di sekolah juga akan ditingkatkan,” kata Macron.

“Sangat jelas, itu adalah Prancis yang diserang,” tambah presiden 42 tahun itu seraya bersumpah negaranya tidak akan menyerah pada nilai-nilai sekuler yang dianut.

Mengheningkan cipta pun tampak di Majelis Nasional. Gereja membunyikan lonceng sekitar pukul 15.00 waktu setempat sebagai tanda bela sungkawa.

Dewan Muslim Prancis mengutuk serangan teror di Nice. Mereka lantas menyampaikan solidaritas kepada para korban dan keluarga mereka.

Nice adalah target salah satu serangan paling mematikan di Prancis dalam beberapa tahun terakhir. Salah satu peristiwa yang paling mematikan adalah saat seorang warga Tunisia berusia 31 tahun mengendarai truk ke kerumunan orang yang merayakan Hari Bastille pada 14 Juli 2016.

Insiden itu menewaskan 86 orang.Beberapa hari kemudian, seorang pastor, Pastor Jacques Hamel, dipotong lehernya saat Misa pagi di sebuah gereja di Rouen.

Prancis sendiri adalah negara Eropa dengan muslim terbanyak di kawasan itu. Sebelumnya seorang guru juga menjadi korban pembunuhan setelah menunjukkan kartun nabi di kelas.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)