Rapor Ekonomi G20: Lumayan, Indonesia Rangking 3!

Warga Prancis terapkan penggunaan masker di tempat umum. (AP/Michel Euler)

Jakarta, – Pandemi virus corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) benar-benar brutal. Selain memakan korban jiwa, virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini juga menyebabkan korban lainnya: ekonomi.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan, jumlah pasien positif corona di seluruh dunia per 16 Agustus 2020 adalah 21.294.845 orang. Dari jumlah tersebut. Sebanyak 761.779 orang di antaranya tutup usia.

Dibandingkan dengan sindrom pernapasan akut (SARS) yang menyebar pada awal dekade 2000-an, penyebaran virus corona jauh lebih cepat dan luas. Berdasarkan catatan WHO, pandemi SARS berlangsung sekira enam bulan. Saat catatan WHO selesai pada 7 Agustus 2003, jumlah pasien positif SARS adalah 8.422 orang. Dibandingkan dengan corona tentu bak bumi dan langit.

Perbedaan lain antara Covid-19 dan SARS adalah jangkauannya. Penyebaran SARS lebih terpusat di Asia Timur, sedangkan virus corona ‘membobol’ lebih dari 200 negara dan teritori di seluruh dunia.

Baca:

Belum Pernah Vaksin Ditemukan Hanya Dalam 1 Tahun

WHO kemudian menyatakan Covid-19 sebagai pandemi global. Belum pernah dunia menghadapi wabah yang sebegini parah sejak pagebluk flu Spanyol pada awal abad ke-20.

Ketiadaan pengalaman dalam menghadapi pandemi dengan skala semasif ini membuat para pemimpin dunia pusing tujuh keliling. Oleh karena itu, wajar jika langkah yang dipilih tergolong ekstrem yaitu pembatasan sosial (social distancing).

Mengingat virus corona mudah menyebar jika jarak antar-manusia semakin dekat, maka jarak itu dilebarkan. Caranya adalah dengan membatasi aktivitas masyarakat agar interaksi dan kontak bisa ditekan serendah mungkin. Diam di rumah, #stayathome, #dirumahaja. Sekolah dan perkantoran libur, pabrik dan pertokoan tutup, lokasi wisata nir pengunjung, dan sebagainya.

Baca:

Ramai Resesi, SBY Cerita Krisis 2008 & Bedanya dengan 2020