Restoran dan Mall Berdarah-darah, Hotel Bali Menyerah

Jakarta, – Pandemi virus corona bukan hanya menyerang manusia tapi juga ekonomi. Sejumlah bisnis ‘terinfeksi’ dan susah untuk ‘sembuh’.

Pasalnya sejumlah pembatasan sosial yang dilakukan mengekang aktivitas manusia. Ini pun berdampak pada aktivitas usaha.

Baca:

FEB Unpad Gelar Seminar Internasional Bahas Dampak Covid

Bisnis restoran misalnya. Di Jakarta, bisnis ini termasuk yang paling parah terkena dampak PSBB jilid II di DKI Jakarta.

Pengelola yang membuka gerai di mal-mal sudah tak kuat beroperasi, mereka memilih untuk menutup total usahanya.

Baca:

Breaking: Debat Presiden AS Trump vs Biden Batal

Wakil Ketua Umum Persatuan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Bidang Restoran Emil Arifin memperkirakan banyak restoran yang saat ini tutup sementara tidak lama lagi harus tutup permanen dalam beberapa bulan ke depan.

Penyebabnya adalah tidak diizinkannya aturan makan di tempat atau dine-in, juga perkiraan bakal bertambah lamanya pembatasan sosial berskala besar (PSBB) ketat.

“Yang masih bertahan sekalipun berpikir untuk tutup. Karena daripada buka tapi hanya boleh take away, mending tutup sekalian. Dan yang tutup permanen saya perkirakan mungkin di November-Desember tutup itu sekitar 30-40%, dan itu di mal saja,” kata Emil kepada kemarin.

Adapun saat ini diperkirakan jumlah restoran yang berlokasi di Mal-Mal Jakarta sekitar 4.000-an tempat usaha. Sekitar 1.500 di antaranya berpotensi tutup permanen.

Hal ini bakal membuat operasional pusat perbelanjaan makin sepi. Pasalnya, sebagian besar tenant yang mengisi di mal berasal dari restoran.

Untuk bisa bangkit kembali, Emil menyebut perlu ada aksi korporasi bagi pengelola restoran seperti tambahan modal sangat diperlukan bagi para pemegang saham.

Meski demikian, hal itu sangat sulit terjadi dalam waktu dekat, apalagi di tengah bisnis restoran yang kian tidak menentu. Calon investor atau pemegang saham bakal berpikir panjang.

“Harus cari pemegang saham lain, siapa yang mau ikut suntikan dana baru. Mungkin dia sendiri nggak kuat, makanya cari pemegang saham lain. siapa yang join. Atau mungkin Pinjaman bank lain,” jelas Emil.

Nasib tidak jauh berbeda dialami oleh pelaku usaha di restoran yang berdiri sendiri. Emil menyebut sudah banyak mendapat laporan bahwa pengusaha restoran di luar mal sudah gulung tikar.

“Yang saya tahu restoran lokal punya yang punya sendiri misal seperti ayam bakar. Itu banyak yang sudah tutup permanen, ada yang udah dijual. Misalnya di Grogol dan kawasan lain,” jelasnya.