RI Ternyata “Langganan” Resesi Teknikal 5 Tahun Terakhir

Infografis: Gawat 5 Negara Besar Berisiko Terkena Resesi

Jakarta, – Indonesia mencatatkan pertumbuhan ekonomi negatif pada kuartal II-2020 akibat krisis pandemi, yakni sebesar -5,32% (tahunan) dan -4,19% (kuartalan). Namun Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menegaskan bahwa Indonesia belum resesi. Benarkah?

Definisi resesi ekonomi memang tidak pernah bulat. Belum pernah ada kesepakatan tunggal mengenai cara mendeskripskan sebuah kontraksi ekonomi-kondisi di mana Produk Domestik Bruto (PDB) tercatat minus-bisa serta-merta disebut sebagai ‘resesi’.

Sampai saat ini definisi resesi yang umum dipakai, adalah kontraksi ekonomi selama dua kuartal berturut-turut. Definisi demikian dinisbatkan kepada Komisioner Biro Statistik Tenaga Kerja AS Julius Shiskin, yang menjabat dari 1973-1978, meski tak sepenuhnya akurat.

Pada tahun 1974, dalam kolom “Economic Analysis” di koran The New York Times Profesor Ekonomi & Statistik Rutgerts University ini menulis ada tiga hal yang harus dipenuhi jika ingin menentukan situasi kontraksi ekonomi sebagai resesi atau tidak.

Belakangan, yang populer menjadi patokan hanyalah faktor ketiga (penurunan PDB 2 kuartal). Itupun tak memperhitungkan pasar tenaga kerja sebagaimana digariskan oleh Shiskin. Jika bisa bersuara dari alam kubur, dia tentu bakal berlepas tangan dari definisi demikian.

Namun demikian, definisi itu dipakai untuk meningkatkan kesadaran publik ketika terjadi kontraksi ekonomi. Istilah resesi menjadi momok bagi politisi yang bisa menggerus elektabilitas mereka di depan konstituen, sehingga mereka menampiknya.

Misalnya, Presiden AS Richard Nixon dalam pidato nota keuangan 1974 menyatakan “tidak akan ada resesi di AS”. Namun NBER pada tahun yang sama mengumumkan bahwa resesi sudah terjadi pada 1969-1970. Popularitas Nixon pudar dan dia mundur akibat skandal Watergate.

Oleh karena itulah, istilah resesi di meda massa ditambahi dengan embel-embel ‘teknikal’ untuk memberikan early warning tanpa mendahului pengumuman NBER. Definisi yang dipakai masih sama, yakni kontraksi dua kuartal berturut-turut.

Ada yang cenderung memakai basis kuartalan, tapi ada juga yang memakai basis tahunan. AS, misalnya memilih perhitungan kontraksi tahunan, karena mereka menyetahunkan (annualized) kontraksi kuartalan sehingga kurang mencerminkan kondisi riil.

Yang pasti, tidak ada lembaga yang bisa memastikan bahwa resesi “sedang terjadi”. Biro Nasional Riset Ekonomi AS (National Bureau of Economic Research/ NBER) tidak pernah secara formal mengumumkan ekonomi AS “sedang” resesi, karena mereka perlu setahun untuk mengukur semua indikator ekonomi dan menentukan resesi-tidaknya sebuah periode.