Rusuh Pilpres AS Nggak Ngaruh, Wall Street To the Moon

FILE -In this June 16, 2020 file photo, a sign for a Wall Street building is shown in New York. Earnings reporting season is about to get underway for big companies, and the forecasts are grim. Wall Street expects S&P 500 companies to report profits plunged by the most since the depths of the Great Recession during the second quarter. Earnings reports tend to matter deeply to investors because stock prices track the path of earnings over the long term.   (AP Photo/Mark Lennihan, File)

Jakarta, – Bursa saham Amerika Serikat (AS) Wall Street naik untuk sesi keempat berturut-turut pada penutupan perdagangan Kamis (5/11//9/2020). Kenaikan ini terjadi di tengah penghitungan surat suara pemilihan presiden yang belum selesai hingga kini.

Indeks Dow Jones Industrial Average naik 542.52 poin atau 1,95% menjadi 28.390,18. S&P 500 juga naik 67.01 poin atau 1.95% menjadi 3.510,45. Sedangkan indeks NASDAQ Composite melonjak 300.15 poin atau 2.59% menjadi 11.890,93.

Baca:

AS Pecah Belah, Massa Trump & Biden Adu Protes hingga Rusuh

Para analis mengatakan reli tersebut mencerminkan antusiasme pada hasil penghitungan pilpres yang sudah mulai terlihat. Meski AS kini terpecah secara politik.

Ini sebenarnya bisa menjadi penghalang bagi perubahan kebijakan yang dapat mengganggu investor, seperti kenaikan pajak. Namun hal ini tak digubris investor kemarin.

Hingga kini belum ada perkembangan besar dalam pemilihan presiden AS karena lima negara bagian masih belum selesai melakukan penghitungan suara yang dikirim melalui pos.

Baca:

Trump Minta Setop Perhitungan Suara, Biden: Lanjutkan!

Di sisi lain, mengutip AFP, setelah pertemuan dua hari, Federal Reserve (The Fed) menyatakan kembali janjinya untuk menggunakan semua alatnya untuk membantu ekonomi AS pulih dari pandemi virus corona, meski tidak mengumumkan tindakan baru apa pun.

Sementara itu, data ekonomi yang dirilis Kamis menunjukkan aplikasi baru untuk tunjangan pengangguran pekan lalu masih stabil di 751.000. Data tersebut dirilis satu hari setelah AS melaporkan lebih dari 99.000 kasus virus corona baru, memperburuk gelombang wabah di negara tersebut.

(sef/sef)