Sad, Sudah Rugi Gede Kini Boeing Dapat Cobaan Pesawat Jatuh!

Boeing

Jakarta, – Nasib nahas menimpa perusahaan manufaktur pesawat terbang asal Amerika Serikat (AS) yakni Boeing. Pepatah sudah jatuh tertimpa tangga seolah menggambarkan apa yang terjadi pada perakit pesawat terbang itu. 

Sebelum pandemi Covid-19 melanda, Boeing terlilit masalah dengan salah satu model pesawatnya yang berjenis Boeing 737 Max. Dua kecelakaan pesawat yang menimpa Lion Air JT610 dua tahun silam dan Ethiopian Airlines membuat pesawat yang relatif baru tersebut harus dikandangkan. 

Baca:

Boeing 737: Mesin Uang Boeing Hingga Nasib Suram Seri 737 Max

Kini, kinerja keuangan Boeing harus terdampak signifikan akibat Covid-19. Mengacu pada laporan keuangannya untuk kuartal ketiga tahun lalu Boeing mencatatkan total penjualan senilai US$ 14,1 miliar pada kuartal ketiga atau turun 29% (year on year/yoy).

Sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2020, total pendapatan Boeing mencapai US$ 42,8 miliar turun dari periode yang sama sebelumnya di US$ 58,6 miliar. Terjadi penurunan penjualan di seluruh segmen bisnis perusahaan tersebut. 

Baca:

Sederet Kendala Pencarian Black Box Sriwijaya Air SJ182

Segmen pengiriman pesawat komersial yang berkontribusi terhadap 27% dari total revenue anjlok 54% (yoy) pada Januari-September 2020. Penurunan permintaan terhadap pesawat terbang akibat lockdown di berbagai negara sehingga bisnis maskapai menjadi yang paling terdampak jadi pemicunya.

Pada kuartal ketiga tahun 2020, Boeing hanya mengirimkan 28 unit pesawatnya. Turun dari 62 unit pada periode yang sama sebelumnya atau mencatatkan pertumbuhan minus 55%. 

Apabila ditarik lebih jauh lagi, pengiriman pesawat komersial oleh Boeing hanya sebanyak 98 unit dari 301 unit pada periode Januari-September 2019. Artinya ada penurunan sebesar 67% (yoy).

Penurunan volume pengiriman diakibatkan oleh pandemi Covid-19 dan masalah kualitas untuk model 787. Berdasarkan rilis resmi perusahaan, sampai dengan kuartal ketiga tahun lalu masih ada backlog pesawat pabrikan Boeing sebanyak 4.300 unit senilai US$ 313 miliar. 

Kerugian operasional dari segmen ini membengkak 62% (yoy) menjadi US$ 6,2 miliar. Kendati merugi di segmen pengiriman pesawat terbang komersial, Boeing masih mencatatkan laba operasional yang positif untuk segmen lainnya kendati penjualannya juga turun.

Setali tiga uang, segmen jasa Boeing juga mengalami penurunan baik dari sisi penjualan maupun laba operasionalnya. Namun berbeda dengan segmen pengiriman pesawat komersial yang mencatatkan kerugian, laba operasional Boeing untuk segmen ini masih positif US$ 307 juta pada sembilan bulan 2020 kendati drop 85% (yoy).

Terakhir di segmen Defense, Space & Security yang menyumbang 45% dari total pendapatan Boeing, penjualannya turun paling minim yaitu 3% (yoy) pada periode kuartal I-III tahun lalu. Total penjualan tercatat mencapai US$ 19,5 miliar. 

Namun laba operasionalnya juga tergerus signifikan hingga 60% (yoy) pada periode yang sama. Hingga kuartal ketiga 2020, laba operasional Boeing untuk segmen ini masih positif US$ 1 miliar. 

Kinerja Boeing untuk segmen bisnis ini masih bisa terbantu akibat adanya perpanjangan kontrak untuk  NASA, serta kontrak untuk sembilan helikopter MH-47G Blok II Chinook tambahan untuk Operasi Khusus Angkatan Darat A.S. dan empat tambahan satelit 702X.