Sawit RI Didiskriminasi, Menlu Retno Beri Pesan Ini ke Eropa

Pekerja mengangkut hasil panen kelapa Sawit di kebun Cimulang, Bogor, Jawa Barat, Jumat (15/3). Badan Pusat Statistik BPS  mengumumkan neraca Perdagangan (Ekspor-impor) Pada bulan Februari, nilai ekspor mencapai US$ 12,53 miliar, atau turun 11,33% dari tahun sebelumnya (YoY). Nilai ekspor minyak sawit sepanjang Januari-Februari 2019 hanya mencapai US$ 2,94 miliar, yang artinya turun 15,06% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2018.  (CNBC Indonesia/Muhammad Sabki)

Jakarta, – Menteri Luar Negeri RI Retno Lestari Priansari Marsudi memberi pesan khusus ke Uni Eropa (UE) dalam Pertemuan Tingkat Menteri ASEAN dan Uni Eropa ke-23. Ia mendesak UE untuk memperlakukan minyak kelapa sawit secara adil. Hal ini disampaikan Retno 

“(Ini) ada permintaan yang wajar. Indonesia tidak mengorbankan kelestarian lingkungan hanya untuk mengejar pembangunan ekonomi,” tegas Retno dalam pertemuan yang diselenggarakan secara virtual, dikutip Rabu (2/12/2020).

Pilihan Redaksi
  • Ada Kabar Kurang Sedap dari Malaysia, Harga CPO Drop 1% Lebih
  • Harga CPO Kuat di Level RM 3.200, Ini Penyebabnya
  • November: Harga Emas Ambrol 5%, Minyak Terbang 25% Lebih

Permintaan Retno ini menindaklanjuti aturan pelaksanaan (delegated act) atas Renewable Energy Directive (RED II) yang sempat diloloskan Komisi UE pada Maret 2019 lalu.

Dalam dokumen tersebut, Komisi UE menyimpulkan kelapa sawit mengakibatkan deforestasi besar-besaran secara global dan berencana menghapus secara bertahap penggunaan kelapa sawit hingga 0% pada tahun 2030.

Maka, dalam meningkatkan dan menjembatani kebijakan yang lebih baik terhadap industri kelapa sawit yang berkelanjutan dan ramah lingkungan, disepakati dibentuk Joint Working Group (JWG) yang membahas minyak nabati dalam konteks berimbang dengan kelapa sawit.

“Saya menyambut baik rencana penyelenggaraan pertemuan pertama JWG tersebut pada bulan Januari 2021,” ujar Retno.

Indonesia menekankan bahwa kemitraan ASEAN dan EU ke depan perlu terus menjunjung prinsip saling menguntungkan bagi kedua kawasan. Termasuk setara dan non diskriminatif untuk dapat membangun peningkatan kemitraan ASEAN dengan UE yang strategis.

Sebelumnya Retno menjabarkan, jika dibandingkan dengan minyak nabati lain yang menggunakan lahan 278 juta hektar, kelapa sawit hanya menggunakan 17 juta hektar. Penggunaan lahan kelapa sawit memiliki hasil yang efektif dibandingkan minyak nabati lainnya.

Tak hanya itu, Retno juga menyampaikan bahwa Asia Tenggara merupakan penghasil minyak kelapa sawit terbesar, menyumbang 89% produksi dunia. Minyak kelapa sawit memegang peran penting dalam meraih Target Pembangunan Berkelanjutan/SDGs.

Industri ini juga sudah menyediakan 26 lapangan pekerjaan. Lebih dari 40% perkebunan sawit dikelola oleh petani kecil di ASEAN. Di Indonesia, industri ini telah menekan angka kemiskinan sebesar 10 juta dan berkontribusi pada devisa sebesar US$ 23 miliar atau sekitar Rp 326,2 triliun (asumsi Rp 14.186/US$) pada tahun 2019.

Indonesia menekankan bahwa pemulihan ekonomi pasca pandemi dalam konteks perlindungan lingkungan hidup menjadi kepentingan dan komitmen bersama. Minyak sawit yang ramah lingkungan adalah bagian komitmen Indonesia, dan Uni Eropa perlu menerapkan prinsip keadilan dalam isu ini.

Di ASEAN, komoditas ini mendukung pencapaian target pembangunan berkelanjutan yang mendorong lapangan pekerjaan bagi 26 juta orang dengan 40% perkebunan sawit dikelola oleh petani kecil. Industri sawit sendiri bernilai US$ 19 miliar (Rp 269 triliun).

Pertemuan yang dihadiri 10 menlu ASEAN dan 23 menlu dari negara-negara Uni Eropa juga menegaskan komitmen bersama untuk mendorong prinsip multilateralisme dalam pengadaan vaksin, peningkatan perdagangan kedua kawasan, pemulihan ekonomi dan perlindungan lingkungan hidup.

Mereka juga membahas berbagai tindak lanjut dari pending issues dalam kemitraan antara lain finalisasi pembahasan menuju negosiasi FTA, finalisasi Comprehensive Air Transport Agreement (CATA), dan implementasi dari Plan of Action 2018-2022, serta implementasi Joint Statement on Connectivity.

Menurut laporan Kementerian Luar Negeri RI, hasil dari pertemuan ini mencakup kesepakatan kedua pihak untuk meningkatkan kemitraan ASEAN-Uni Eropa menjadi kemitraan strategis, dalam rangka peningkatan hubungan dan kerja sama di berbagai bidang.

Pertemuan ini juga menghasilkan dua outcome document, yaitu ASEAN-EU Joint Ministerial Statement on Connectivity, serta Co-Chair’s press release.

(sef/sef)