Stimulus Kian Tak Pasti, Dow Jones Dibuka Melemah 91 Poin

Trader Timothy Nick works in his booth on the floor of the New York Stock Exchange, Thursday, Jan. 9, 2020. Stocks are opening broadly higher on Wall Street as traders welcome news that China's top trade official will head to Washington next week to sign a preliminary trade deal with the U.S. (AP Photo/Richard Drew)

Jakarta, – Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka merah pada perdagangan Jumat (11/12/2020), menyusul buruknya angka pengangguran di tengah kenaikan kasus Covid-19 dan berlarutnya negosiasi soal stimulus fiskal jelang akhir tahun.

Indeks Dow Jones Industrial Average melemah 91 poin (-0,3%) pukul 08:30 waktu setempat (21:30 WIB) dan selang 10 menit memburuk jadi 96,75 poin (-0,32%) ke 29.902,51. Indeks S&P 500 surut 16 poin (-0,44%) ke 3.652,08 dan Nasdaq minus 64 poin (-0,52%) ke 12.341,83.

Politisi di Washington berusaha meloloskan Undang-Undang (UU) stimulus sebelum habis masa 2020, tetapi terbentur pada ketidaksepakatan mengenai stimulus pemerintah negara bagian dan lokal, tunjangan pengangguran dan bantuan langsung tunai (BLT).

Staf pemimpin Mayoritas Senat Mitch McConnell menginformasikan bahwa faksi Republik tak akan mendukung proposal stimulus senilai US$ 908 miliar, demikian diberitakan NBC News. Pad Kamis, Ketua DPR Nancy Pelosi negosiasi dua pihak telah menuju “kemajuan besar.”

“Nada pemberitaan dari gedung Capitol Hill mengenai stimulus terdengar lebih merdu ketimbang Senin-Rabu tapi masih belum ada tanda terobosan,” tutur Adam Crisafulli, pendiri Vital Knowledge, dalam laporan riset yang dikutip International.

DPR telah meloloskan perpanjangan belanja selama sepekan untuk menghindari terhentinya layanan pemerintahan (shutdown) hingga 18 Desember, dan memberi lebih banyak kesempatan untuk menegosiasikan stimulus.

Sepanjang pekan berjalan, indeks Dow Jones dan S&P 500 melemah masing-masing sebesar 0,7% dan 0,8%. Sementara itu, Nasdaq tertekan 0,5% pada periode yang sama, melanjutkan pekan koreksi yang pertama.

Tanpa stimulus yang baru, jutaan warga AS bakal kehilangan tunjangan pengangguran pada tahun baru. Padahal, klaim tunjangan pengangguran mingguan pada pekan lalu menembus 853.000, atau tertinggi sejak 19 September, menyusul karantina wilayah (lockdown) yang mulai banyak diberlakukan karena gelombang kedua penyebaran Covid-19.

Sementara itu, penasihat Balai Obat dan Makanan (Food and Drug Administration/FDA) pada Kamis mendorong penggunaan vaksin besutan Pfizer dan BioNTech untuk keperluan darurat di AS, mengikuti kebijakan di Inggris.

TIM RISET

[Gambas:Video ]

(ags/ags)