Terbang Lebih Tinggi dari Emas, Prospek Perak Oke Gak?

Karyawan gerai emas  memperbaiki perhiasan warna emas (chrome) berupa cincin di Cikini Gold Center, Jakarta Pusat, Selasa (28/7/20). harga emas Antam juga berhasil naik Rp 25.000 menjadi Rp 964.120/gram untuk emas kepingan 100 gram yang lumrah dijadikan acuan. Sedangkan untuk kepingan 1 gram berada di Rp 1.022.000/gram berhasil menembus level 1 juta per gram. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)

Jakarta, – Harga emas dunia kembali bersinar, naik lagi ke atas US$ 2.000/troy ons setelah merosot tajam pada pekan lalu.

Rekor tertinggi sepanjang masa emas US$ 2.072,48/troy ons dicapai pada 7 Agustus lalu. Jika melihat posisi akhir tahun 2019, hingga mencapai rekor tersebut emas terbang tinggi 36,55%.

Kinerja tersebut tentunya membuat emas bersinar terang. Namun sinar terang emas masih kalah dibandingkan dengan perak.

Baca:

Bela-belain Jual Bank, Warren Buffett Kini Investasi Emas Lho

Perak di tahun ini memang tak mencapai rekor termahal sepanjang sejarah, tetapi kenaikan harganya luar biasa, nyaris 2 kali lipat dari persentase kenaikan emas.

Level tertinggi yang dicapai perak tahun ini US$ 29.83/ons pada Jumat lalu. Jika dilihat sejak akhir tahun lalu hingga ke level tersebut, perak terbang tinggi, 67,3%.

Baca:

Pasar Batu Bara Tertekan, Adaro Pangkas Capex Jadi Rp 3,7 T

Level tersebut merupakan yang tertinggi sejak Februari 2013, sementara rekor tertinggi sepanjang masa perak di US$ 49,51/ons yang dicapai pada 28 April 2011.

Pemicu utama kenaikan perak adalah harapan pulihnya perekonomian dunia yang nyungsep akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19). Saat perekonomian perlahan bangkit, maka industri kembali berekspansi, efeknya permintaan perak sebagai bahan baku tentunya meningkat.

Perak memang digunakan di banyak industri, peralatan rumah tangga, komputer, handphone, hingga industri otomotif menggunakan perak sebagai bahan baku. Sehingga permintaan untuk industri menjadi penopang utama kenaikan harga perak.

Berdasarkan data Metal Focus, pada tahun 2019 lalu, demand perak secara global mencapai 991,8 juta ons, mengalami kenaikan 0,35% dibandingkan demand tahun 2018. Dari total tersebut sebanyak 510,9 juta ons perak atau sekitar 51% digunakan untuk keperluan industri.

Sementara untuk keperluan investasi sebanyak 186,1 juta ons atau sekitar 18,8% dari total demand di 2019.

Permintaan perak sebagai investasi berada di urutan ketiga di bawah permintaan dari industri di posisi paling puncak, dan permintaan untuk keperluan perhiasan di posisi kedua, dengan persentase sebesar 20,3% dari total demand 2019.

Tetapi dalam 2 tahun terakhir permintaan perak sebagai investasi mulai menunjukkan kenaikan, setelah turun tajam di 2017.

Pada tahun 2018, permintaan perak untuk investasi sebesar 165,7 juta ons, dibandingkan tahun 2017 sebesar 156,2 juta atau naik 6,08%. Sementara di tahun 2019 naik 1,45% dibandingkan 2018.

Baca:

Duh! Dana Nasabah Rp 75 M Gak Cair, Kresna Sekuritas Digugat

Potensi peningkatan demand membuat Bank BRC merevisi outlook permintaan perak tahun ini. Sebelumnya Bank BRC memprediksi demand di tahun ini akan anjlok 17%, tetapi direvisi menjadi 4% saja.

Sepanjang semester I-2020, jumlah kepemilikan ETP (exchange-trade-product) dengan underlying perak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa.

Hingga 30 Juni lalu, kepemilikan ETP perak mencapai rekor tertinggi sepanjang masa 925 juta ons, berdasarkan laporan dari Silver Institute.

Artinya, permintaan akan perak memang sedang tinggi-tingginya, sehingga harganya meroket dan tidak menutup kemungkinan terus melesat naik, mengingat pemulihan ekonomi global baru di tahap awal. 

TIM RISET  INDONESIA

Baca:

Gegera Warren Buffett, Harga Emas Kembali ke Atas US$ 2.000

[Gambas:Video ]

(pap/pap)