Teror Corona: Badai Resesi, Tsunami Kebangkrutan!

Infografis/gegara covid-19 ritel fesyen ternama tutup toko di 2020/Aristya Rahadian

Jakarta, – Pandemi virus corona menyisakan duka yang mendalam. Selain bagi para pasien maupun korban meninggal serta sanak keluarganya, virus yang awalnya menyebar di Kota Wuhan, Provinsi Hubei, Republik Rakyat China ini juga menyebabkan bencana ekonomi yang luar biasa.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat, jumlah pasien positif corona di seluruh negara per 25 Oktober 2020 mencapai 42.512.186 orang. Bertambah 438.633 orang (1,04%) dibandingkan sehari sebelumnya.

Dalam 14 hari terakhir (12-25 Oktober), rata-rata pasien positif baru bertambah 381.861 orang per hari. Melonjak dibandingkan 14 hari sebelumnya yaitu 313.090.

Sementara pasien meninggal per 25 Oktober berjumlah 1.147.301 orang. Bertambah 5.669 orang (0,5%) dibandingkan sehari sebelumnya.

Selama dua pekan terakhir, rata-rata tambahan pasien yang tutup usia mencapai 5.443 orang setiap harinya. Turun dibandingkan dua pekan sebelumnya yakni 5.654 orang.

Baca:

WHO Sebut Beberapa Negara Dalam Bahaya, Spanyol Darurat

Pandemi virus corona menjadi bencana ekonomi akibat penanggulangannya yang mengedepankan kebijakan pembatasan sosial (social distancing). Manusia diminta (atau bahkan diperintahkan) berjarak satu dengan lainnya, minimal 1-2 meter. Oleh karena itu, berbagai aktivitas yang menyebabkan manusia tidak berjarak menjadi tabu. Manusia dicabut dari akarnya sebagai makhluk sosial.

Ini membuat kegiatan sehari-hari berubah drastis. Miliaran penduduk bumi disarankan untuk #dirumahaja. Bekerja, belajar, dan beribadah di rumah.

Hasilnya, terjadi perubahan aktivitas ekonomi secara mendasar. Kegiatan produksi terganggu karena tidak bisa beroperasi dengan kapasitas penuh. Permintaan pun anjlok karena apa yang mau dibeli kalau orang-orang masih banyak yang ‘terpenjara’ di rumah. Ekonomi ditekan dari dua sisi sekaligus, penawaran (supply) dan permintaan (demand).