The Fed akan Lancarkan Operation Twist, IHSG Siap Melesat!

Federal Reserve Chair Jerome Powell removes his glasses as he listens to a question during a news conference after the Federal Open Market Committee meeting, Wednesday, Dec. 11, 2019, in Washington. The Federal Reserve is leaving its benchmark interest rate alone and signaling that it expects to keep low rates unchanged through next year. (AP Photo/Jacquelyn Martin)

Jakarta, ¬†Indonesia –¬†Pasar keuangan dalam negeri bervariasi pada perdagangan awal pekan kemarin. Pergerakan dipengaruhi sentimen dari luar dan dalam negeri. Penurunan yield obligasi (Treasury) Amerika Serikat memberikan sentimen positif ke pasar finansial, sementara beberapa data dari dalam negeri dirilis mengecewakan.

Pergerakan yield Treasury masih akan mempengaruhi pergerakan pasar keuangan Indonesia pada perdagangan hari ini, Selasa (2/3/2021), selain juga beberapa faktor lainnya seperti Operation Twist yang akan dibahas di halaman 3 dan 4.

Baca:

Wall Street Meriah, Dow Jones Dibuka Melesat 423 Poin

Melansir data Refinitiv, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kemarin membukukan penguatan 1,55% ke 6.338,513. Data perdagangan mencatat investor asing melakukan aksi beli bersih senilai Rp 128,62 miliar, dengan nilai transaksi mencapai Rp 13,99 triliun.

Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah tipis 0,07% ke Rp 14.250/US$, setelah sebelumnya sempat mendekati Rp 14.300/US$.

Dari pasar obligasi, Surat Berharga Negara (SBN) bervariasi tetapi mayoritas menguat. Pelemahan hanya terjadi pada tenor 15, 2, dan 30 tahun.

Baca:

IHSG Jebolin 6.300, Diam-diam ‘Bandar Besar’ Lepas 10 Saham!

Kemarin, yield Treasury tenor 10 tahun turun 2,7 basis poin ke 1,4290%. Pada perdagangan Jumat lalu, yield ini juga menurun 5,9 basis poin.

Banyak analis melihat kenaikan yield Treasury masih akan tertahan di kisaran 1,5%, sebab jika terus menanjak, maka akan memicu kecemasan terjadi taper tantrum yang dapat memicu gejolak di pasar keuangan global.

Dengan penurunan yield tersebut, kecemasan akan tarjadinya taper tantrum kini menurun, dan memberikan dampak positif ke pasar finansial global.

Sayangnya, data dari dalam negeri dirilis mengecewakan, yang membuat IHSG, rupiah, hingga SBN tidak kompak.

IHS Markit melaporkan aktivitas manufaktur Indonesia yang diukur dari Purchasing Managers’ Index (PMI) berada di 50,9 untuk periode Februari 2021. PMI menggunakan angka 50 sebagai titik mula, jika di atas 50 maka dunia usaha masih melakukan ekspansi.

Akan tetapi, skor PMI manufaktur Tanah Air melorot dibandingkan Januari 2021 yang mencapai 52,2. Pencapaian Januari 2021 adalah yang terbaik dalam 6,5 tahun terakhir.
“Ada sinyal kesehatan sektor manufaktur yang terjadi sejak November 2020 memburuk. Produksi terus naik, hingga empat bulan berturut-turut, tetapi lajunya melambat.

Perlambatan produksi berarti ada penurunan pasokan barang jadi,” sebut keterangan tertulis IHS Markit.

Andrew Harker, Economics Director IHS Markit, menyatakan bahwa peningkatan kasus positif corona (Coronavirus Disease-2019/Covid-19) di Indonesia masih menjadi faktor utama penghambat aktivitas produksi. Namun walau ada perlambatan, Harker menilai sektor manufaktur Ibu Pertiwi masih tahan banting (resilient).

Sementara itu Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan data inflasi Indonesia periode Februari 2021. Hasilnya tidak jauh dari ekspektasi pasar.

Pada Senin (1/3/2021), Kepala BPS Suhariyanto melaporkan laju inflasi nasional bulan lalu adalah 0,1% dibandingkan bulan sebelumnya (month-to-month/MtM). Ini membuat inflasi tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 1,38%.

Konsensus pasar yang dihimpun memperkirakan inflasi Februari 2021 adalah 0,08% MtM. Sementara dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya adalah 1,36%.

Sedangkan konsensus Reuters memperkirakan inflasi Februari 2021 berada di 0,9% MtM. Inflasi tahunan diperkirakan 1,38%.

HALAMAN SELANJUTNYA >>> Yield Treasury Turun, Wall Street Meroket