Top! Ini Sederet Bukti Kinerja Kinclong Bank Mega

cover topik/Kinerja Bank Mega Melesat saat COVID-19 Mewabah luar/Aristya Rahadian Krisabella

Jakarta, – Di tengah pandemi Covid-19, PT Bank Mega Tbk (MEGA) mampu mencatatkan kinerja cemerlang. Laba sebelum pajak tahun ini diproyeksikan akan menyentuh Rp 3,7 triliun, dengan laba bersih Rp 3 triliun. Bila hal tersebut tercapai maka laba Bank Mega selama 2020 akan melesat 50% dibandingkan dengan 2019.

Hal ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Bank Mega Kostaman Thayib, dalam Paparan Kinerja Kuartal III-2020, Rabu (11/11/2020). Kostaman mengatakan optimisme tersebut dibangun karena pada masa krisis akibat pandemi Covid-19, Bank Mega memanfaatkan peluang yang ada sebaik-baiknya untuk meningkatkan laba.

Baca:

Bank Mega Buka Suara Soal Akuisisi Bank Harda

Dia menyebut masa krisis memiliki dua arti, yakni bahaya atau peluang. Menurutnya perubahan besar terjadi di masa krisis jika bisa diantisipasi dan dihadapi dengan benar maka akan tercipta peluang besar.

“Sebaliknya jika tak bisa dihadapi dengan benar, akan mengakibatkan bahaya dan kerugian besar. Dari berbagai krisis, Bank Mega bisa antisipasi perubahan yang terjadi sehingga bisa mendapatkan keuntungan besar,” ujarnya Rabu (11/11/2020).

Baca:

Terungkap! Ini Transformasi & Inovasi Digital Bank Mega

Pada periode Januari-September 2020, Bank Mega meraih laba bersih sebesar Rp 1,76 triliun, melesat 27,76% secara year on year, di kala bank lain mengalami penurunan laba.

“Pertumbuhan ini jauh di atas pertumbuhan laba perbankan per September tumbuh 27,6%. Jadi laba Bank Mega kebalikannya perbankan,” ujar Kostaman Thayib.

Kostaman memaparkan strategi dalam meningkatkan laba adalah dengan meningkatkan pendapatan, baik pendapatan bunga maupun fee based income. Selain itu, juga harus menurunkan biaya, yakni biaya bunga atau cost of fund dan biaya operasional.

Lebih rinci, peningkatan laba Bank Mega ditopang oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) yang menembus Rp 2,97 triliun, naik Rp 227 miliar atau 8,3% dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Sementara itu, fee based income (FBI) Bank Mega tumbuh 3,1% atau Rp 49 miliar menjadi Rp 1,64 triliun.

Sementara itu, para periode yang sama biaya operasional Bank Mega mampu turun 8,9% menjadi Rp 2,38 triliun. Adapun cost of fund, turun dari 5,91% pada September 2019 menjadi 5,11% pada September 2020.

Berikutnya penyaluran kredit Bank Mega menembus Rp 50,5 triliun pada akhir Kuartal III-2020, atau tumbuh 4,7% dibandingkan setahun sebelumnya. Pertumbuhan ini jauh melampaui industri perbankan yang tercatat hanya 0,12%.

Sementara itu, dana pihak ketiga (DPK) bertambah Rp 10,3 triliun atau 15,6% menjadi Rp 76,3 triliun. Pertumbuhan ini juga melampuai rata-rata perbankan nasional yang tercatat 12,88%. Sementara total aset Bank Mega akhir September 2020 tercatat Rp 103,8 triliun, naik 18,2% dibandingkan setahun sebelumnya.

[Gambas:Video ]

(sef/sef)